Nenek Sanami di Pandeglang Tinggal di Rumah Hampir Ambruk, Terpaksa Berpuasa Saat Tak Ada Makanan
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kondisi memprihatinkan Nenek Sanami yang harus tinggal di rumah tak layak huni.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nenek Sanami di Pandeglang Tinggal di Rumah Hampir Ambruk, Terpaksa Berpuasa Saat Tak Ada Makanan
Kisah memprihatinkan datang dari Kabupaten Pandeglang, Banten. Seorang lansia bernama Sanami, 75 tahun, harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah yang kondisinya nyaris ambruk dan telah ditempatinya selama hampir tiga tahun.
Sanami merupakan warga Kampung Baitul Mumin, Desa Cimoyan, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya kini mengalami kerusakan cukup parah. Bagian atap di sisi rumah telah ambruk, sementara beberapa bagian dinding mulai rapuh akibat usia bangunan.
Kondisi tersebut membuat Sanami merasa khawatir, terutama ketika hujan deras disertai petir. Dalam situasi cuaca yang dianggap membahayakan, ia memilih mengungsi sementara ke rumah tetangga demi keselamatan. Kondisi tempat tinggal yang tidak layak juga membuat aktivitas sehari-harinya semakin terbatas.
Selain menghadapi persoalan tempat tinggal, Sanami juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Karena tidak memiliki penghasilan tetap, ia mengandalkan bantuan dari tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketika tidak memperoleh bantuan atau tidak memiliki makanan, ia mengaku terpaksa berpuasa.
Kondisi ekonomi tersebut membuat kehidupan Sanami sangat bergantung pada kepedulian masyarakat sekitar. Ia berharap ada pihak yang dapat membantu memperbaiki rumahnya sehingga dirinya dapat tinggal dengan lebih aman dan tidak lagi merasa cemas ketika hujan turun.
Sanami sebelumnya memang pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah sebanyak dua kali. Namun, bantuan untuk memperbaiki rumah hingga kini belum diterimanya. Padahal, kondisi bangunan yang ditempati sudah membutuhkan perhatian dan perbaikan.
Kepala Desa Cimoyan, Oni Badroni, mengatakan pihak desa sebenarnya telah mengusulkan perbaikan rumah Sanami. Namun, proses tersebut terkendala persoalan administrasi karena lansia tersebut belum memiliki kelengkapan identitas yang diperlukan untuk pengajuan bantuan.
Pemerintah desa kemudian berupaya membantu proses pembuatan dokumen identitas Sanami. Kelengkapan administrasi tersebut diharapkan dapat membuka jalan agar pengajuan bantuan perbaikan rumah dapat segera direalisasikan.
Kondisi yang dialami Sanami menjadi gambaran bahwa persoalan kesejahteraan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan penghasilan, tetapi juga akses terhadap tempat tinggal yang aman dan layak. Bagi warga lanjut usia yang hidup seorang diri, dukungan lingkungan dan perhatian pemerintah menjadi sangat penting.
Penanganan terhadap kondisi Sanami diharapkan tidak berhenti pada bantuan sementara. Perbaikan rumah, pemenuhan kebutuhan dasar, serta memastikan dirinya masuk dalam pendataan bantuan sosial menjadi langkah yang dapat membantu meningkatkan keamanan dan kesejahteraannya.
Kisah Sanami juga menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama agar warga yang membutuhkan tidak kesulitan mendapatkan akses terhadap bantuan yang menjadi haknya.
Jurnalis : Danilo Fernandes
- Penulis: Danilo Fernandes


Saat ini belum ada komentar