Viral Sekelompok Siswa SMA di Kupang Keroyok Teman, Tiga Pelajar Jalani Pembinaan
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Viral Sekelompok Siswa SMA di Kupang Keroyok Teman, Tiga Pelajar Jalani Pembinaan
Aksi kekerasan yang melibatkan sejumlah pelajar SMA di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian setelah rekamannya beredar di media sosial. Dalam video tersebut terlihat seorang siswa berinisial AF terlibat perkelahian dengan temannya di kawasan persawahan Oeteta, Kecamatan Sulamu.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada Jumat, 25 September 2026, sekitar pukul 13.00 Wita. Berdasarkan keterangan kepolisian, kejadian berlangsung di luar lingkungan sekolah dan kemudian menjadi perhatian setelah video berdurasi sekitar 37 detik tersebar di media sosial.
Dalam rekaman yang beredar, korban awalnya terlibat perkelahian dengan seorang siswa lainnya. Situasi kemudian berkembang ketika siswa lain ikut terlibat. Beberapa teman yang berada di lokasi sempat meminta agar perkelahian dihentikan dan tidak dilakukan secara berkelompok.
Upaya untuk menghentikan kejadian tersebut akhirnya berhasil setelah sejumlah siswa lainnya turun tangan melerai. Polisi kemudian melakukan penanganan bersama pihak sekolah dan keluarga siswa yang terlibat.
Kapolsek Sulamu Ipda Ardi Yohannes Zacharias membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, persoalan tersebut telah dimediasi dengan melibatkan wali kelas, guru, kepala sekolah, orang tua siswa, serta pihak kepolisian.
Hasil mediasi yang dilakukan pada Senin, 28 September 2026, menghasilkan sejumlah langkah pembinaan. Tiga pelajar yang dinilai melakukan pengeroyokan dikenai sanksi skorsing dan diserahkan kepada Polsek Sulamu untuk menjalani pembinaan selama dua pekan.
Pihak kepolisian juga memberikan penekanan kepada seluruh pelajar agar menghentikan berbagai bentuk kekerasan, termasuk tawuran, perkelahian fisik, maupun perundungan. Polisi mengingatkan bahwa tindakan kekerasan dapat membawa konsekuensi terhadap masa depan pelajar dan dalam kondisi tertentu dapat masuk ke ranah hukum.
Selain sanksi dari sekolah dan pembinaan oleh kepolisian, orang tua para siswa juga dilibatkan dalam proses penyelesaian masalah. Mereka diminta meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan dan aktivitas anak, khususnya setelah jam sekolah ketika siswa berada di luar lingkungan pendidikan.
Kepala SMA Swasta Efata Sulamu, Musa Peul, menyampaikan bahwa pihak sekolah menyayangkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa berlangsung di luar jam sekolah sehingga sekolah bersama orang tua dan pihak terkait berupaya memastikan persoalan tersebut dapat diselesaikan dan tidak kembali terjadi.
Pihak sekolah juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mengawasi perilaku anak di luar lingkungan sekolah. Pengawasan tersebut dinilai penting karena pembentukan karakter dan pencegahan kekerasan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan peran keluarga dan lingkungan sekitar.
Dalam penyelesaian perkara tersebut, para siswa yang terlibat disebut telah saling memaafkan dan menyatakan komitmen untuk tidak mengulangi perkelahian. Orang tua juga ikut menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen untuk membantu mengawasi perilaku anak-anak mereka.
Kasus ini menjadi pengingat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi seluruh siswa. Setiap bentuk kekerasan antarpelajar perlu ditangani secara serius dengan mengedepankan perlindungan terhadap korban, pembinaan terhadap pelaku, serta keterlibatan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Penanganan melalui pembinaan juga diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai dampak dari tindakan kekerasan. Selain mendapatkan pendidikan akademik, siswa perlu dibekali kemampuan menyelesaikan konflik secara damai, menghargai teman, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.
Pihak kepolisian dan sekolah kini berharap kejadian tersebut tidak kembali terulang. Pengawasan yang lebih baik dari orang tua, kedisiplinan di lingkungan sekolah, serta komunikasi antara siswa dan guru menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya perkelahian maupun perundungan di kalangan pelajar.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar