BRIN Ungkap Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur, Dipicu Fenomena Pencampuran Air Danau
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ikan red devil berceceran di tepi Danau Batur, Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (23/7/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BRIN Ungkap Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur, Dipicu Fenomena Pencampuran Air Danau
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penyebab fenomena kematian massal ikan yang terjadi di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali. Berdasarkan hasil kajian awal, peristiwa tersebut diduga dipicu oleh fenomena pencampuran massa air danau (lake mixing) yang menyebabkan air dari lapisan dasar danau terangkat ke permukaan sehingga memengaruhi kualitas air dan mengancam kehidupan ikan.
Tim peneliti BRIN menemukan bahwa kadar oksigen terlarut di permukaan Danau Batur turun hingga mendekati nol miligram per liter saat peristiwa kematian ikan terjadi. Selain itu, tercium bau menyengat hidrogen sulfida (H2S) yang menjadi indikasi bahwa air dari lapisan dasar danau yang miskin oksigen telah naik ke permukaan. Kondisi tersebut mengakibatkan lingkungan perairan menjadi tidak layak bagi kehidupan ikan dalam waktu singkat.
Peneliti Biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN menjelaskan bahwa lapisan dasar Danau Batur secara alami memiliki kandungan oksigen yang sangat rendah akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlangsung selama bertahun-tahun. Pada lapisan tersebut juga terakumulasi senyawa sulfida yang, ketika terbawa ke permukaan akibat pencampuran air, dapat berubah menjadi hidrogen sulfida, yaitu senyawa yang bersifat sangat beracun bagi ikan. Namun demikian, BRIN menegaskan bahwa diperlukan analisis laboratorium lebih lanjut untuk memastikan seluruh faktor penyebab kematian ikan secara menyeluruh.
Peneliti hidrodinamika danau BRIN menambahkan bahwa Danau Batur merupakan danau vulkanik yang berada di kawasan Kaldera Gunung Batur. Karakteristik tersebut menyebabkan kandungan sulfur di danau relatif lebih tinggi dibandingkan banyak danau lainnya. Ketika terjadi kondisi tanpa oksigen (anoksik), senyawa sulfat di dasar danau berubah menjadi sulfida. Saat fenomena pencampuran air berlangsung, sulfida tersebut naik ke lapisan atas dan mengalami proses oksidasi yang turut menghabiskan cadangan oksigen terlarut di dalam air. Akibatnya, ikan mengalami kekurangan oksigen dan berisiko mati secara massal.
Menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya, Danau Batur termasuk danau polimiktik, yaitu danau yang mengalami pencampuran massa air beberapa kali dalam setahun. Fenomena tersebut umumnya terjadi pada periode Juni hingga Agustus, kemudian kembali muncul pada akhir Desember dan Februari. Meskipun merupakan proses alami, dampaknya terhadap kehidupan biota perairan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kualitas air, suhu, serta karakteristik ekosistem saat proses pencampuran berlangsung.
BRIN menilai pemantauan kualitas air secara berkelanjutan menjadi langkah penting untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang. Pemantauan tersebut meliputi pengukuran suhu air, kadar oksigen terlarut, parameter meteorologi, hingga profil kualitas air pada berbagai kedalaman. Data tersebut nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan sistem peringatan dini sehingga potensi kematian massal ikan dapat diprediksi lebih awal.
Sebelumnya, ribuan ikan, terutama ikan nila dan ikan budidaya milik warga, ditemukan mati mengambang di permukaan Danau Batur. Fenomena tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait kemungkinan adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Batur. Namun, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena limnologi dan hidrotermal alami serta tidak berkaitan dengan potensi erupsi Gunung Batur yang hingga kini masih berada pada Status Level I atau Normal.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan ekosistem danau secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat, pemantauan kualitas air serta penerapan sistem peringatan dini diharapkan mampu meminimalkan dampak terhadap sektor perikanan budidaya sekaligus menjaga kelestarian ekosistem Danau Batur di masa mendatang.
Jurnalis : Danilo Fernandes
- Penulis: Danilo Fernandes


Saat ini belum ada komentar