BNN Perkuat Strategi Cegah Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Anak dan Remaja
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Kepala BNN RI, Komjen Suyudi Ario Seto, dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Lido Bogor pada Kamis (23/7/2026) (dok BNN)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BNN Perkuat Strategi Cegah Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Anak dan Remaja
Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika, khususnya di kalangan anak dan remaja. Langkah tersebut dinilai penting mengingat kelompok usia muda menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba dan memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan bangsa.
Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto mengatakan bahwa Indonesia saat ini tengah mempersiapkan generasi penerus untuk menghadapi bonus demografi. Karena itu, kualitas sumber daya manusia harus dijaga agar tetap sehat, produktif, memiliki karakter kuat, serta mampu bersaing di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, berbagai program pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia akan sulit mencapai hasil maksimal apabila persoalan penyalahgunaan narkotika tidak ditangani secara serius. Ancaman narkoba dinilai tidak hanya berdampak terhadap kesehatan individu, tetapi juga dapat memengaruhi keluarga, lingkungan sosial, serta kualitas generasi penerus bangsa.
BNN mencatat prevalensi nasional penyalahgunaan narkotika berada di angka 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta orang. Peningkatan yang cukup besar terjadi pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kelompok usia tersebut merupakan bagian dari generasi produktif yang diharapkan menjadi penggerak pembangunan Indonesia di masa mendatang.
Melihat tantangan tersebut, BNN mendorong perubahan pendekatan dalam upaya pencegahan. Salah satu program yang dikembangkan adalah Gerakan Ananda Bersinar atau Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika. Gerakan ini menempatkan anak sebagai fokus utama dalam membangun ketahanan terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba.
Program tersebut tidak hanya mengedepankan penyampaian informasi mengenai bahaya narkotika. BNN juga berupaya memperkuat pendidikan karakter, ketahanan diri, kecakapan hidup atau life skills, serta meningkatkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam memberikan perlindungan kepada anak.
BNN menilai pencegahan harus dimulai sejak usia dini. Anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik dan pendidikan berkualitas tetap membutuhkan kemampuan untuk menghadapi tekanan lingkungan dan menolak ajakan penyalahgunaan narkoba. Karena itu, penguatan daya tangkal menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan berkarakter.
Untuk memperluas edukasi di lingkungan pendidikan, BNN juga menjalin kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong integrasi materi anti-narkotika ke dalam proses pembelajaran melalui mata pelajaran yang telah tersedia.
Selain itu, BNN juga menginisiasi penguatan gerakan melalui Saka Narkotika atau Saka Anti-Narkotika. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk terlibat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba sekaligus membangun lingkungan pergaulan yang lebih positif.
Upaya pencegahan juga diimbangi dengan pengembangan layanan rehabilitasi yang lebih mudah diakses masyarakat. BNN menghadirkan layanan telerehabilitasi berbasis digital yang memungkinkan pengguna narkoba dengan tingkat penggunaan ringan hingga sedang mendapatkan konsultasi secara daring dan menjalani rehabilitasi rawat jalan sesuai dengan kebutuhan.
Layanan berbasis digital tersebut diharapkan dapat menjangkau kelompok usia muda yang lebih terbiasa menggunakan teknologi. Selain memberikan fleksibilitas dalam memperoleh layanan, pendekatan tersebut juga diharapkan dapat mengurangi hambatan dan stigma yang selama ini membuat sebagian masyarakat enggan mencari bantuan rehabilitasi.
Sementara bagi pengguna dengan tingkat ketergantungan yang lebih berat, BNN akan mengarahkan mereka untuk mendapatkan rehabilitasi rawat inap di fasilitas yang tersedia. Penanganan tersebut dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pengguna agar proses pemulihan dapat berjalan secara tepat.
Sekolah juga didorong untuk menjadi bagian dari sistem pencegahan sekaligus pendampingan. BNN meningkatkan kapasitas guru agar mampu melakukan deteksi dini terhadap siswa yang mulai menunjukkan indikasi penyalahgunaan narkoba. Dengan mengenali masalah sejak tahap awal, intervensi dapat dilakukan sebelum penggunaan berkembang menjadi ketergantungan.
Pendekatan dukungan sebaya atau peer support juga menjadi salah satu strategi yang dikembangkan. Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan remaja sehingga keberadaan teman sebaya yang memberikan dukungan positif diharapkan dapat membantu mencegah perilaku berisiko.
Selain sekolah, BNN terus memperluas program rehabilitasi berbasis masyarakat melalui Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM). Program tersebut melibatkan masyarakat dalam memberikan edukasi, pendampingan, serta membantu proses pemulihan pengguna narkoba di lingkungan masing-masing.
Program IBM saat ini telah diterapkan di lebih dari 1.400 wilayah di Indonesia. Pengembangannya masih terus dilakukan mengingat jumlah desa di Indonesia jauh lebih besar. Dengan memperluas jangkauan program, BNN berharap masyarakat dapat memiliki akses yang lebih dekat terhadap informasi, pendampingan, dan layanan pemulihan.
BNN juga menyoroti hubungan antara penyalahgunaan narkoba dengan persoalan kesehatan mental. Penggunaan narkotika pada usia muda dinilai dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan dan psikologis. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, dan kesehatan mental anak.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam mencegah anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Komunikasi yang terbuka, pengawasan yang sehat, serta pendampingan terhadap perkembangan anak dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
BNN berharap kombinasi antara edukasi sejak dini, penguatan keluarga dan sekolah, pemberdayaan masyarakat, serta kemudahan akses rehabilitasi dapat menjadi strategi yang efektif untuk menekan penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Melalui berbagai langkah tersebut, BNN berupaya memastikan generasi muda Indonesia memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap ancaman narkotika. Pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama diharapkan dapat menjaga kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung terwujudnya generasi yang sehat, produktif, dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
Jurnalis : Danilo Fernandes
- Penulis: Danilo Fernandes

Saat ini belum ada komentar