Polda Metro Jaya Jadi Contoh Penguatan Ketahanan Pangan, Polri Dorong Jajaran Optimalkan Potensi Daerah
- calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polda Metro Jaya Jadi Contoh Penguatan Ketahanan Pangan, Polri Dorong Jajaran Optimalkan Potensi Daerah
Polri terus memperkuat dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional dengan mendorong seluruh jajaran kepolisian untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki setiap daerah. Langkah tersebut dilakukan melalui Satgas Ketahanan Pangan sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah sekaligus upaya mendorong peningkatan produksi pangan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu contoh pengembangan program tersebut terlihat di kawasan Muara Gembong yang dikelola Polda Metro Jaya. Kawasan yang sebelumnya memiliki sekitar 60 kolam kini berkembang menjadi 128 kolam. Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi perikanan sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat di sekitar kawasan.
Dalam panen raya yang berlangsung pada 28 September 2026, kawasan Muara Gembong menghasilkan sekitar 10 ton ikan dan udang. Hasil tersebut terdiri atas sekitar 5.000 kilogram ikan nila dan mujair, 3.000 kilogram ikan lele, 1.000 kilogram udang vaname, serta 1.000 kilogram udang pancet. Selain hasil perikanan, kegiatan tersebut juga menghasilkan sekitar 4.000 butir telur ayam.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, pengembangan kawasan pangan di Muara Gembong menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana potensi wilayah dapat dikembangkan bersama masyarakat. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga mencakup keterlibatan masyarakat, keberlanjutan kegiatan, manfaat ekonomi, serta pemanfaatan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Setelah proses panen selesai, kawasan tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi semata. Penebaran benih dan proses budidaya kembali dilakukan agar siklus produksi dapat terus berlangsung. Pola berkelanjutan seperti ini menjadi salah satu pendekatan yang didorong Polri untuk dikembangkan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Polri menilai setiap daerah memiliki potensi yang berbeda. Wilayah yang memiliki lahan pertanian dapat diarahkan untuk mengembangkan tanaman pangan, daerah dengan potensi peternakan dapat memperkuat produksi protein hewani, sementara wilayah pesisir dapat mengoptimalkan sektor perikanan. Dengan pemetaan potensi tersebut, program ketahanan pangan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain sektor perikanan dan peternakan, Satgas Ketahanan Pangan Polri juga mendorong pengembangan komoditas pertanian, salah satunya bawang putih. Berdasarkan pemantauan hingga 24 September 2026, terdapat 17 Polda yang memiliki potensi lahan bawang putih dengan luas keseluruhan mencapai sekitar 1.550,06 hektare.
Dari total potensi lahan tersebut, sekitar 215,07 hektare atau 13,87 persen telah ditanami. Sementara itu, sebanyak 1.334,99 hektare atau 86,13 persen masih belum ditanami. Percepatan penanaman terus dilakukan dengan memperhatikan sejumlah faktor, antara lain ketersediaan bibit, kesiapan lahan, sarana pengairan, serta kesesuaian waktu tanam.
Dalam pengembangan komoditas tersebut, Satgas Ketahanan Pangan juga melakukan koordinasi dengan kelompok petani penghasil bibit bawang putih di Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Masing-masing kelompok disebut memiliki kapasitas sekitar 100 ton bibit dengan harga sekitar Rp50.000 per kilogram.
Polri menekankan bahwa perbedaan kondisi setiap wilayah membuat strategi ketahanan pangan tidak dapat diterapkan secara seragam. Karena itu, jajaran kepolisian di daerah didorong terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap potensi yang tersedia sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dapat menghambat proses produksi.
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Polri menyiapkan personel dengan kompetensi khusus atau Bakomsus di bidang pertanian, perikanan, peternakan, gizi, serta bidang terkait lainnya. Kehadiran personel dengan kemampuan teknis tersebut diharapkan dapat mendukung pendampingan kepada masyarakat dan membantu pengelolaan produksi pangan di lapangan.
Menurut Polri, keberhasilan pengembangan kawasan Muara Gembong dapat menjadi referensi bagi jajaran lainnya, tetapi bukan untuk diterapkan secara sama persis di setiap daerah. Prinsip yang dapat dikembangkan adalah melakukan pemetaan potensi wilayah, melibatkan masyarakat, meningkatkan produksi, menyiapkan sumber daya manusia, menjaga keberlanjutan, serta memastikan hasil produksi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Penguatan ketahanan pangan juga memiliki keterkaitan dengan pembangunan rantai pasok pangan. Produksi lokal yang berkembang dapat menjadi bagian dari sistem distribusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Polri menyebut hasil produksi tersebut juga berpotensi mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis melalui rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dengan pendekatan tersebut, ketahanan pangan tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan produksi, tetapi juga sebagai upaya membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat sejak tahap produksi hingga pemanfaatan hasil. Pengembangan potensi daerah diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Polri selanjutnya mendorong seluruh jajaran untuk terus mengembangkan program sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Optimalisasi potensi lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penguatan sumber daya manusia menjadi bagian dari langkah yang dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan produksi di berbagai wilayah Indonesia.
Nama Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar