Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Internasional » Pemilu Israel 2026, Mantan Polisi Yahudi Yoav Segalovitz Terpilih Jadi Anggota Parlemen dari Partai Islam Ra’am

Pemilu Israel 2026, Mantan Polisi Yahudi Yoav Segalovitz Terpilih Jadi Anggota Parlemen dari Partai Islam Ra’am

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pemilu Israel 2026, Mantan Polisi Yahudi Yoav Segalovitz Terpilih Jadi Anggota Parlemen dari Partai Islam Ra’am

TEL AVIV – Pemilihan umum Israel 2026 menghadirkan fenomena politik yang menarik perhatian publik internasional. Yoav Segalovitz, mantan penyidik kepolisian Israel berusia 67 tahun yang dikenal sebagai seorang Yahudi sekuler dan mengidentifikasi dirinya sebagai Zionis, dipastikan akan menjadi anggota parlemen atau Knesset melalui Partai Ra’am, sebuah partai politik konservatif berbasis masyarakat Arab yang memiliki orientasi Islam. Keputusan Segalovitz bergabung dengan partai tersebut menjadi sorotan karena memperlihatkan bentuk kerja sama politik lintas agama dan etnis di tengah dinamika politik Israel yang masih terpolarisasi.

Partai Ra’am yang dipimpin Mansour Abbas berhasil memperoleh delapan kursi dalam pemilihan umum yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026). Hasil tersebut menempatkan partai itu sebagai salah satu kekuatan politik yang berpotensi memengaruhi pembentukan pemerintahan baru Israel. Kehadiran Segalovitz dalam barisan politik Ra’am sekaligus menjadi simbol upaya membangun kerja sama antara masyarakat Yahudi dan Arab di negara tersebut.

Segalovitz sebelumnya merupakan politikus dari partai berhaluan tengah yang didominasi kelompok Yahudi. Namun, ia memutuskan meninggalkan partai tersebut dan bergabung dengan Ra’am untuk membangun kemitraan politik bersama Mansour Abbas. Keduanya memiliki latar belakang agama dan etnis berbeda, tetapi sepakat bahwa kerja sama antarkelompok masyarakat diperlukan untuk menciptakan kemajuan politik dan sosial di Israel.

Dalam wawancara sebelum pemilihan umum, Segalovitz menjelaskan bahwa perbedaan identitas antara dirinya dan Abbas tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kerja sama. Ia menggambarkan Abbas sebagai seorang Arab yang religius, sementara dirinya merupakan seorang Yahudi sekuler. Meski demikian, keduanya sama-sama warga negara Israel yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan negara tersebut.

Segalovitz menilai masyarakat Yahudi dan Arab perlu menemukan ruang kerja sama agar dapat berkontribusi dalam pemerintahan. Menurutnya, kemajuan tidak akan tercapai apabila kelompok masyarakat terus dipisahkan berdasarkan latar belakang agama maupun etnis. Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan kemitraannya dengan Abbas dalam memperluas penerimaan politik terhadap Partai Ra’am.

Hasil pemilu Israel kali ini juga menunjukkan perkembangan penting dalam peta politik nasional. Partai-partai yang dipimpin kelompok Arab secara keseluruhan berhasil memperoleh 19 dari total 120 kursi Knesset. Perolehan tersebut menjadi pencapaian terbesar bagi partai-partai Arab dalam sejarah pemilihan parlemen Israel dan berpotensi memberikan pengaruh besar dalam proses pembentukan koalisi pemerintahan.

Sementara itu, partai pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berhasil memperoleh suara terbanyak dibandingkan partai lainnya. Namun, hasil tersebut belum cukup untuk memastikan blok politik pendukung Netanyahu menguasai mayoritas kursi parlemen. Kondisi ini membuat persaingan pembentukan pemerintahan baru semakin kompleks karena tidak ada blok politik yang secara langsung memiliki dukungan mayoritas yang cukup kuat.

Dengan komposisi parlemen yang terbentuk, partai-partai Arab berpeluang menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan apabila kelompok oposisi yang dipimpin politikus Yahudi bersedia menjalin kerja sama. Namun, kemungkinan tersebut masih menghadapi berbagai hambatan politik, terutama karena sebagian partai Yahudi selama ini menolak bekerja sama dengan kelompok politik Arab.

Dalam perayaan kemenangan Ra’am setelah pengumuman hasil pemilu, Segalovitz menjadi salah satu tokoh yang mendapat perhatian khusus. Ia merupakan satu-satunya politikus dalam acara tersebut yang tidak menyampaikan pidato menggunakan bahasa Arab. Meski demikian, kehadirannya disambut positif oleh para pendukung partai ketika ia menyerukan kalimat “Kulanu Yisraelim”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “Kita semua orang Israel”.

Seruan tersebut menggambarkan pesan persatuan yang ingin dibawa Segalovitz melalui kerja sama politiknya dengan Abbas. Ia ingin menunjukkan bahwa identitas sebagai warga negara dapat menjadi landasan bersama bagi masyarakat yang memiliki perbedaan agama, budaya, dan latar belakang etnis.

Meski demikian, keputusan Segalovitz bergabung dengan Ra’am tidak sepenuhnya mendapat sambutan positif. Sejumlah kelompok sayap kanan Israel mengkritik langkah tersebut dan menilainya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan negara. Para pengkritik juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kerja sama dengan partai Islam dapat membuka peluang bagi penerapan hukum Islam dalam sistem pemerintahan Israel.

Kritik juga datang dari sebagian kalangan politik Arab, khususnya kelompok yang berada di Joint List, sebuah aliansi politik Arab yang memiliki pandangan lebih berhaluan kiri dibandingkan Ra’am. Mereka menilai kemitraan antara Segalovitz dan Abbas berpotensi hanya menjadi strategi untuk memperbaiki citra Ra’am agar lebih mudah diterima oleh partai-partai arus utama, tanpa memberikan penyelesaian nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Arab.

Di sisi lain, Segalovitz dan Abbas mempertahankan pandangan bahwa kemitraan tersebut menawarkan pendekatan politik berbeda. Mereka ingin memperlihatkan bahwa partai yang dipimpin masyarakat Arab juga dapat terlibat dalam pemerintahan nasional dan bekerja sama dengan kelompok politik Yahudi. Bagi keduanya, keterlibatan masyarakat Arab dalam proses pengambilan keputusan merupakan bagian penting dari masa depan Israel.

Perdebatan mengenai posisi Partai Ra’am juga semakin menguat setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para sekutunya berulang kali melontarkan kritik terhadap partai tersebut. Bahkan, partai Netanyahu termasuk pihak yang mengajukan permohonan agar Ra’am didiskualifikasi dari keikutsertaan dalam pemilu.

Selama masa kampanye, Netanyahu menggunakan slogan politik “Kanan atau Palestina” untuk memperingatkan para pemilih mengenai kemungkinan terbentuknya pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab. Ia juga berulang kali menyampaikan bahwa pesaing utamanya, mantan panglima militer Gadi Eisenkot, berpotensi bekerja sama dengan Mansour Abbas demi memperoleh dukungan mayoritas di parlemen.

Partai Netanyahu juga menyebarkan tuduhan bahwa hasil pemilu telah dicurangi oleh partai-partai yang dipimpin kelompok Arab. Namun, tuduhan tersebut tidak disertai bukti yang dapat menguatkannya dan telah dibantah oleh partai-partai yang menjadi sasaran. Situasi ini semakin memperlihatkan tajamnya perbedaan pandangan politik di Israel setelah pemungutan suara selesai.

Segalovitz turut menanggapi meningkatnya ketegangan politik tersebut. Melalui platform X pada Kamis (29/10/2026), ia menyampaikan bahwa hasutan, rasisme, dan pengucilan merupakan ancaman serius terhadap ketahanan serta kekuatan Negara Israel. Pernyataan itu sekaligus mempertegas pandangannya mengenai pentingnya membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Selain persoalan politik dan koalisi, keterlibatan partai-partai Arab juga berkaitan dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi warga Arab di Israel. Kelompok masyarakat tersebut mencakup lebih dari seperlima populasi Israel dan masih menghadapi sejumlah persoalan, termasuk kemiskinan, keterbatasan investasi pembangunan, serta marginalisasi dalam berbagai sektor kehidupan.

Karena itu, meningkatnya perolehan kursi partai-partai Arab di Knesset dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi penyampaian aspirasi masyarakat tersebut dalam proses politik nasional. Namun, peluang itu sangat bergantung pada kesediaan partai-partai lain untuk membangun kerja sama dan menyepakati agenda pemerintahan bersama.

Yoav Segalovitz dan Mansour Abbas dijadwalkan dilantik bersama enam anggota parlemen Ra’am lainnya pada 10 November 2026. Pelantikan tersebut akan menjadi langkah awal bagi Segalovitz untuk menjalankan tugas sebagai anggota Knesset melalui partai yang memiliki basis politik dan identitas berbeda dari latar belakang pribadinya.

Perkembangan politik pascapemilu Israel 2026 kini tidak hanya ditentukan oleh kemenangan partai dengan suara terbanyak, tetapi juga kemampuan berbagai kelompok politik membangun koalisi. Kehadiran Segalovitz di Partai Ra’am menjadi salah satu gambaran bahwa kerja sama lintas agama dan etnis mulai memperoleh ruang dalam dinamika politik Israel, meskipun masih menghadapi penolakan dan perdebatan dari berbagai kelompok.

Jurnalis : Rika Anggun Lestari

author avatar
Rika Anggun Lestari
  • Penulis: Rika Anggun Lestari

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less