Prof. Rycko Amelza Sebut Indonesia Catat Sejarah Baru, Impor Jagung Berakhir Setelah Lebih dari Lima Dekade
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prof. Rycko Amelza Sebut Indonesia Catat Sejarah Baru, Impor Jagung Berakhir Setelah Lebih dari Lima Dekade
Guru Besar sekaligus pakar kepolisian Prof. Rycko Amelza Dahniel menyampaikan bahwa Indonesia berhasil mencatatkan sejarah baru di sektor pangan setelah menghentikan impor jagung pada tahun 2026. Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia telah melakukan impor jagung secara berkelanjutan sejak tahun 1973. Dengan tidak adanya impor jagung pada tahun ini, Indonesia dinilai memasuki babak baru dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Prof. Rycko menjelaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan di bidang pertanian, melainkan perubahan besar dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia. Selama lebih dari lima puluh tahun, kebutuhan jagung nasional masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kini, kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya produksi jagung dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan nasional bahkan membuka peluang ekspor.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menjadikan swasembada pangan sebagai salah satu program prioritas nasional. Berbagai strategi dilakukan secara terpadu, mulai dari perluasan lahan tanam, peningkatan produktivitas petani, penyediaan benih unggul, bantuan alat dan mesin pertanian, hingga penguatan sistem penyerapan hasil panen oleh pemerintah. Langkah-langkah tersebut dinilai berhasil meningkatkan produksi jagung secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Prof. Rycko juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Menurutnya, Polri tidak hanya menjalankan fungsi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berkontribusi melalui pendampingan kepada kelompok tani, pengawasan distribusi sarana produksi pertanian, serta mendorong pemanfaatan lahan produktif di berbagai daerah.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian teknis, TNI, Polri, serta para petani disebut menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat peningkatan produksi jagung nasional. Sinergi tersebut memungkinkan berbagai kendala di lapangan dapat diatasi lebih cepat, mulai dari penyediaan pupuk, distribusi benih, hingga pemasaran hasil panen agar tetap memberikan keuntungan bagi petani.
Selain mampu menghentikan impor, peningkatan produksi jagung nasional juga memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku industri pakan ternak. Pemerintah menilai kondisi stok nasional saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga tidak diperlukan lagi impor jagung sepanjang tahun 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia dalam jangka panjang.
Prof. Rycko menilai capaian ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang didukung kerja sama lintas lembaga mampu menghasilkan perubahan nyata. Ia berharap keberhasilan menghentikan impor jagung dapat menjadi motivasi untuk memperkuat swasembada komoditas pangan lainnya sehingga Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional tanpa ketergantungan pada impor.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus menjaga keberlanjutan program peningkatan produksi melalui inovasi teknologi pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur pertanian, serta kepastian pasar bagi hasil panen petani. Dengan demikian, keberhasilan yang telah dicapai tidak hanya menjadi pencapaian sesaat, tetapi mampu dipertahankan sebagai fondasi menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
Jurnalis : Hanadia
- Penulis: Jurnalis Berita Polri

Saat ini belum ada komentar