Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » News » Kisah Marsudi, Sopir Angkot yang Dijuluki Pilot Darat Usai Bantu Mahasiswa UI Terobos Barikade Polisi di Jakarta

Kisah Marsudi, Sopir Angkot yang Dijuluki Pilot Darat Usai Bantu Mahasiswa UI Terobos Barikade Polisi di Jakarta

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah Marsudi, Sopir Angkot yang Dijuluki Pilot Darat Usai Bantu Mahasiswa UI Terobos Barikade Polisi di Jakarta

JAKARTA – Aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Selasa (27/10/2026), menyisakan cerita menarik dari seorang sopir angkutan kota (angkot) bernama Marsudi. Pria tersebut menjadi perhatian setelah mengantarkan rombongan mahasiswa dari Depok menuju lokasi demonstrasi, meskipun perjalanan mereka sempat dihadang aparat kepolisian di kawasan Jalan MH Thamrin.

Marsudi merupakan satu dari puluhan sopir angkot yang menerima tawaran untuk mengantar mahasiswa UI menuju pusat aksi. Perjalanan tersebut bukan sekadar pekerjaan mengangkut penumpang seperti biasanya. Di tengah situasi pengamanan demonstrasi, ia harus menghadapi sejumlah hambatan di perjalanan hingga akhirnya berhasil membawa rombongan mahasiswa mencapai Bundaran HI.

Pengalaman itu diceritakan Marsudi saat beristirahat di sebuah warung kopi yang berada tidak jauh dari Stasiun Tanjung Barat. Sambil menikmati kopi hitam setelah seharian bekerja, ia mengingat kembali perjalanan yang menurutnya cukup berbeda dari aktivitas menarik angkot sehari-hari.

Awal keterlibatan Marsudi bermula pada malam sebelum demonstrasi berlangsung. Ia menerima pesan WhatsApp dari seorang teman yang menawarkan pekerjaan untuk mengantarkan rombongan mahasiswa UI menuju lokasi aksi. Setelah mengetahui penawaran tersebut, Marsudi menanyakan besaran bayaran dan tempat berkumpul para sopir.

Dari informasi yang diterimanya, para sopir dijadwalkan berkumpul pada pukul 09.00 WIB di Lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Untuk pekerjaan tersebut, masing-masing sopir ditawarkan bayaran sebesar Rp400 ribu. Meski demikian, Marsudi tidak langsung menerima tawaran itu karena terlebih dahulu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama perjalanan.

Namun, keputusan akhirnya untuk menerima pekerjaan tersebut bukan semata-mata didasarkan pada imbalan yang akan diperoleh. Marsudi mengaku memiliki pandangan tersendiri terhadap mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi. Ia meyakini bahwa para mahasiswa memiliki niat baik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menyuarakan kondisi negara.

Keyakinan tersebut membuat Marsudi bersedia mengantarkan rombongan mahasiswa meskipun menyadari adanya kemungkinan hambatan di perjalanan. Baginya, membantu mahasiswa mencapai lokasi aksi merupakan bentuk dukungan terhadap upaya mereka menyampaikan aspirasi. Sikap tersebut pula yang membuatnya tetap menjalankan pekerjaan itu meski situasi pengamanan demonstrasi berpotensi menimbulkan persoalan.

Pada hari pelaksanaan demonstrasi, Marsudi tiba di Lapangan FISIP UI dan memarkirkan angkotnya sekitar pukul 09.10 WIB. Setelah menunggu beberapa waktu, rombongan angkot mulai bergerak menuju kawasan Bundaran HI sekitar pukul 12.20 WIB. Sejumlah kendaraan membawa mahasiswa yang hendak mengikuti aksi penyampaian pendapat di pusat Jakarta tersebut.

Dalam perjalanan, Marsudi mulai melihat sejumlah anggota kepolisian berjaga di berbagai persimpangan jalan. Kondisi itu membuatnya memperkirakan bahwa rombongan angkot kemungkinan akan menghadapi pemeriksaan atau penghalangan sebelum mencapai tujuan. Perkiraan tersebut kemudian terbukti ketika kendaraan yang dikemudikannya tiba di sekitar Halte Transjakarta MH Thamrin.

Di lokasi tersebut, sejumlah polisi menghadang rombongan angkot dan meminta kendaraan tidak melanjutkan perjalanan. Situasi tersebut membuat mahasiswa yang berada di dalam angkot turun untuk menghampiri petugas. Mereka berupaya berkomunikasi dan meminta agar rombongan diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI.

Marsudi mengungkapkan bahwa mahasiswa yang diantarnya tidak mengenakan almamater kampus. Mereka turun dari kendaraan dan mencoba menyampaikan maksud kedatangan kepada aparat yang berjaga. Sementara itu, Marsudi memilih tetap berada di balik kemudi sambil memperhatikan perkembangan situasi di sekitarnya.

Dalam kondisi tersebut, ia mengaku sempat memikirkan berbagai kemungkinan apabila kendaraan yang dibawanya harus diamankan oleh polisi. Ia juga mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul apabila perjalanan rombongan berakhir dengan persoalan hukum. Meski demikian, Marsudi tetap berusaha mengamati keadaan dan memastikan para mahasiswa yang menjadi penumpangnya tetap aman.

Ketegangan di lokasi penghadangan berlangsung ketika mahasiswa berusaha meminta polisi membuka jalan. Sebagian dari mereka kemudian mengajak petugas berdiskusi sehingga perhatian aparat tertuju pada komunikasi yang sedang berlangsung. Pada saat bersamaan, Marsudi melihat adanya ruang yang mulai terbuka di antara penjagaan polisi.

Sejumlah mahasiswa kemudian memberikan isyarat kepada Marsudi agar bersiap menjalankan angkot. Melihat kesempatan tersebut, ia mulai menggerakkan kendaraannya secara perlahan untuk melewati penjagaan. Mahasiswa yang sebelumnya turun dari kendaraan segera berlari kembali dan masuk ke dalam angkot agar dapat melanjutkan perjalanan bersama rombongan.

Marsudi mengaku tidak langsung memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Ia memilih menginjak pedal gas secara perlahan sembari menunggu seluruh mahasiswa yang sempat turun kembali naik. Menurutnya, ia tidak ingin meninggalkan satu pun penumpang yang sebelumnya telah dipercayakan kepadanya.

Ia bahkan menganggap mahasiswa tersebut layaknya anak-anaknya sendiri. Sikap itu membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan seluruh rombongan sampai ke tujuan. Bagi Marsudi, pekerjaan tersebut bukan hanya tentang menyelesaikan perjalanan dan menerima bayaran, tetapi juga memastikan orang-orang yang dibawanya tidak tertinggal di tengah situasi yang tidak menentu.

Setelah berhasil melewati barikade pengamanan, rombongan angkot akhirnya tiba di kawasan Bundaran HI. Marsudi bersama sopir lainnya kemudian menurunkan para mahasiswa di lokasi tersebut. Selanjutnya, para mahasiswa bergerak menuju titik demonstrasi untuk menyampaikan aspirasi, sedangkan para sopir menunggu di tempat lain.

Tanggung jawab Marsudi belum selesai setelah mengantarkan mahasiswa ke lokasi aksi. Ketika demonstrasi berakhir, ia bersama para sopir lainnya kembali bertemu dengan rombongan mahasiswa. Mereka kemudian mengantarkan para mahasiswa kembali menuju tempat kepulangan, sebagaimana kesepakatan awal pekerjaan tersebut.

Kisah Marsudi memperlihatkan sisi lain dari demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Di tengah perhatian publik terhadap jalannya aksi dan pengamanan aparat, terdapat sejumlah orang di luar kelompok demonstran yang turut berperan dalam mendukung mobilitas peserta aksi. Salah satunya adalah para sopir angkot yang bersedia mengantarkan mahasiswa dari Depok menuju pusat ibu kota.

Pengalaman tersebut juga menggambarkan bagaimana pekerjaan sehari-hari seorang sopir angkutan umum dapat bersinggungan dengan peristiwa sosial dan penyampaian aspirasi masyarakat. Marsudi sendiri mengaku mengambil keputusan berdasarkan keyakinannya terhadap tujuan mahasiswa yang ingin menyuarakan berbagai persoalan. Ia pun menyelesaikan tugasnya dengan mengantarkan rombongan hingga kembali pulang setelah demonstrasi selesai.

Perjalanan dari kampus UI menuju Bundaran HI pada 27 Oktober 2026 itu akhirnya menjadi pengalaman yang membekas bagi Marsudi. Dari pekerjaan carteran senilai Rp400 ribu, ia justru mendapatkan cerita tentang perjalanan penuh tantangan, penghadangan aparat, hingga tanggung jawab untuk memastikan seluruh penumpangnya tiba di tujuan dan kembali dengan selamat.

Jurnalis : Rika Anggun Lestari

author avatar
Rika Anggun Lestari
  • Penulis: Rika Anggun Lestari

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less