Polisi Kawal Tradisi Nadran di Indramayu, 15 Kapal Nelayan Larung Sesaji
- calendar_month Senin, 26 Okt 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polisi Kawal Tradisi Nadran di Indramayu, 15 Kapal Nelayan Larung Sesaji
INDRAMAYU – Tradisi Nadran kembali digelar oleh masyarakat pesisir Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan adat yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat nelayan tersebut berlangsung dengan melibatkan sekitar 15 kapal yang mengiringi prosesi larung sesaji menuju perairan laut.
Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib, personel Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Indramayu bersama Direktorat Polairud Polda Jawa Barat serta unsur pengamanan gabungan melakukan pengawalan di kawasan perairan Muara Kalimenir. Pengamanan ini dilakukan guna mendukung kelancaran kegiatan sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keselamatan selama prosesi berlangsung.
Prosesi larung sesaji dimulai sekitar pukul 08.45 WIB dari kawasan Muara Kalimenir. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kuwu Desa Eretan Kulon, H. Ali Sodikin, dan diikuti masyarakat nelayan yang turut menjaga keberlangsungan tradisi turun-temurun tersebut.
Dalam pelaksanaannya, rombongan kapal bergerak menuju perairan yang berjarak sekitar dua mil laut dari Muara Kalimenir. Sejumlah kapal nelayan mengikuti jalannya prosesi, sementara petugas kepolisian melakukan pengawalan menggunakan dua kapal patroli, yakni Kapal Patroli VIII-2005 dan VIII-2004, dengan dukungan personel Ditpolairud Polda Jawa Barat.
Pengawalan tersebut bertujuan membantu menjaga keselamatan para peserta, mengatur pergerakan kapal, serta memastikan kegiatan adat dapat berlangsung dengan tertib di tengah aktivitas pelayaran. Kehadiran petugas juga menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman kepada masyarakat yang mengikuti tradisi Nadran.
Pengamanan Libatkan Personel Gabungan
Kapolres Indramayu AKBP Prianggo P. M. melalui Kasat Polairud Polres Indramayu AKP Maman Kusmanto menjelaskan bahwa pengamanan kegiatan Nadran merupakan bentuk pelayanan kepolisian kepada masyarakat, khususnya warga pesisir yang sedang melaksanakan tradisi budaya.
Menurutnya, Nadran tidak hanya menjadi kegiatan adat yang dilaksanakan melalui prosesi pelarungan sesaji, tetapi juga memiliki makna sosial bagi masyarakat nelayan. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki dari hasil laut sekaligus mempererat hubungan persaudaraan dan kebersamaan antarwarga.
Ia menegaskan bahwa kehadiran aparat keamanan dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal. Dengan pengamanan yang terkoordinasi, masyarakat diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Pengamanan tradisi Nadran di Eretan Kulon melibatkan 11 personel Satpolairud Polres Indramayu yang dipimpin langsung oleh AKP Maman Kusmanto, serta 12 personel Ditpolairud Polda Jawa Barat. Selain itu, delapan personel Polsek Kandanghaur, dua personel TNI Angkatan Laut Posmat Eretan, tiga personel Koramil Kandanghaur, dan empat personel Satpol PP Kecamatan Kandanghaur turut mendukung kegiatan tersebut.
Aparat pemerintah Desa Eretan Kulon juga ikut membantu pelaksanaan kegiatan agar seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana. Koordinasi lintas instansi tersebut dinilai penting mengingat prosesi melibatkan banyak kapal yang bergerak bersama di kawasan perairan.
Sebelum kegiatan dimulai, petugas juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan. Nelayan serta pengunjung diminta berhati-hati saat berada di dermaga maupun ketika naik dan turun dari kapal, serta mengikuti arahan petugas selama prosesi berlangsung.
Nadran, Tradisi Syukur Masyarakat Nelayan
Bagi masyarakat pesisir Indramayu, Nadran merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial serta kebudayaan nelayan. Kegiatan ini umumnya dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan dan rezeki yang diperoleh dari laut.
Tradisi Nadran juga menjadi sarana untuk memanjatkan doa agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan ketika melaut, memperoleh hasil tangkapan yang baik, serta terhindar dari berbagai risiko selama menjalankan aktivitas di laut. Makna tersebut menjadikan Nadran bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan juga simbol harapan dan kebersamaan masyarakat pesisir.
Pemerintah Kabupaten Indramayu menjelaskan bahwa Nadran dikenal pula sebagai pesta laut atau sedekah laut. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat nelayan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan selama periode tertentu sekaligus harapan agar kegiatan melaut pada masa mendatang berjalan lancar.
Dalam pelaksanaannya, tradisi Nadran dapat mencakup berbagai rangkaian kegiatan adat, doa bersama, arak-arakan, pertunjukan kesenian tradisional, hingga prosesi pelarungan sesaji ke laut. Bentuk pelaksanaan dan susunan acaranya dapat berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan masyarakat di setiap wilayah pesisir.
Selain memiliki nilai budaya, kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan masyarakat nelayan. Persiapan acara yang melibatkan warga, tokoh masyarakat, dan kelompok nelayan menjadi kesempatan untuk membangun semangat gotong royong serta menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Pelestarian Budaya Berjalan Bersama Keselamatan
Pelaksanaan Nadran di Eretan Kulon menunjukkan pentingnya kerja sama antara masyarakat dan aparat keamanan dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal. Kegiatan budaya yang melibatkan aktivitas di perairan membutuhkan koordinasi yang baik agar nilai-nilai adat tetap terjaga tanpa mengesampingkan keselamatan para peserta.
Pengawalan yang dilakukan oleh Satpolairud Polres Indramayu bersama Ditpolairud Polda Jawa Barat dan unsur terkait menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan masyarakat. Pengaturan pergerakan kapal, penyampaian imbauan keselamatan, serta koordinasi antarpersonel merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko selama prosesi berlangsung.
Di tengah perkembangan kehidupan modern, keberadaan tradisi seperti Nadran menjadi pengingat akan kuatnya hubungan masyarakat pesisir dengan laut sebagai sumber penghidupan. Nilai rasa syukur, kebersamaan, dan gotong royong yang terkandung di dalamnya menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga bersama.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat nelayan Desa Eretan Kulon diharapkan terus melestarikan kearifan lokal sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan saat beraktivitas di laut. Sinergi antara warga, pemerintah desa, dan aparat keamanan juga diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan kegiatan budaya yang tertib, aman, dan berkelanjutan.
Dengan pengawalan dari personel gabungan, tradisi Nadran di Eretan Kulon menjadi salah satu bentuk kegiatan masyarakat yang memadukan pelestarian budaya dengan upaya menjaga keamanan wilayah perairan. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa warisan leluhur tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat pesisir Indramayu.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
- Penulis: Rizki Ahmad Noviyandi


Saat ini belum ada komentar