Hasto Ungkit Kudatuli: Akar Rumput Tak Pernah Bisa Dicabut Kekuasaan
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasto Singgung Peristiwa Kudatuli, Sebut Kekuatan Akar Rumput Tak Pernah Dapat Dipatahkan oleh Kekuasaan
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, kembali menyinggung peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli dalam rangkaian peringatan 30 tahun peristiwa tersebut. Dalam pidatonya, Hasto menegaskan bahwa kekuatan akar rumput menjadi fondasi utama yang menjaga keberlangsungan perjuangan partai di tengah berbagai tekanan politik yang pernah dihadapi. Ia menilai, dukungan masyarakat di tingkat bawah merupakan kekuatan yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan kekuasaan maupun tindakan represif.
Menurut Hasto, peristiwa Kudatuli bukan hanya menjadi bagian dari sejarah politik Indonesia, tetapi juga menjadi simbol perjuangan demokrasi yang lahir dari keteguhan rakyat. Ia mengibaratkan akar rumput seperti rumput yang meskipun dipotong, diinjak, bahkan dibakar, akarnya tetap hidup dan akan kembali tumbuh ketika mendapat kesempatan. Filosofi tersebut, menurutnya, mencerminkan semangat perjuangan yang terus bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan politik.
Hasto menyampaikan bahwa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri di PDIP terbentuk melalui dukungan kader dan simpatisan di tingkat akar rumput. Ia menilai loyalitas tersebut mampu menjaga eksistensi partai meskipun pada masa lalu menghadapi berbagai tekanan politik, termasuk saat terjadinya penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996. Baginya, kekuatan rakyat menjadi faktor utama yang membuat partai tetap bertahan hingga saat ini.
Peringatan 30 tahun Kudatuli diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pementasan teatrikal yang menggambarkan peristiwa penyerbuan kantor PDI, prosesi budaya, hingga pembacaan puisi sebagai bentuk refleksi atas perjalanan demokrasi di Indonesia. Acara tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi dan kebebasan berpendapat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk tidak melupakan sejarah. Menurutnya, pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran agar praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip demokrasi tidak kembali terulang. Ia menekankan bahwa persatuan, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat, serta komitmen terhadap konstitusi harus terus dijaga demi memperkuat kehidupan demokrasi di Indonesia.
Hasto juga menyampaikan bahwa perjuangan politik seharusnya tidak dilandasi rasa dendam, melainkan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan memahami sejarah secara utuh, seluruh elemen bangsa diharapkan dapat memperkuat persatuan nasional serta menjaga stabilitas politik melalui cara-cara yang demokratis, damai, dan menghormati supremasi hukum.
Peringatan Kudatuli tahun ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan demokrasi Indonesia dibangun melalui berbagai dinamika sejarah. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat terus menjaga ruang demokrasi, menghormati perbedaan pandangan, serta mengedepankan dialog sebagai solusi dalam menyelesaikan setiap persoalan kebangsaan.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar

Saat ini belum ada komentar