Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » News » DVI Polri dan ULM Bersinergi Identifikasi Korban KM Virgo, Perkuat Kolaborasi untuk Mendukung SDG 17

DVI Polri dan ULM Bersinergi Identifikasi Korban KM Virgo, Perkuat Kolaborasi untuk Mendukung SDG 17

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DVI Polri dan ULM Bersinergi Identifikasi Korban KM Virgo, Perkuat Kolaborasi untuk Mendukung SDG 17

JAKARTA – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memperkuat kerja sama dalam proses identifikasi korban kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan kepastian identitas kepada korban serta membantu keluarga memperoleh informasi yang akurat mengenai anggota keluarga mereka. Sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi juga mencerminkan pentingnya kemitraan lintas sektor dalam mendukung penanganan bencana dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Penanganan korban kecelakaan kapal membutuhkan koordinasi berbagai pihak, terutama ketika proses identifikasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pengenalan fisik. Dalam situasi tersebut, tim DVI menjalankan pemeriksaan secara sistematis dengan menggabungkan informasi yang diperoleh dari keluarga korban dan hasil pemeriksaan terhadap jenazah. Dukungan dari lembaga pendidikan seperti ULM dapat menjadi bagian penting dari kolaborasi yang mengutamakan keahlian, ketelitian, dan tanggung jawab dalam proses kemanusiaan.

KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembu, Laut Jawa. Peristiwa tersebut memicu operasi pencarian dan pertolongan yang melibatkan tim SAR gabungan, sementara proses identifikasi korban meninggal dunia dilakukan oleh tim DVI. Penanganan ini tidak hanya berkaitan dengan upaya menemukan korban, tetapi juga memastikan identitas setiap jenazah sebelum diserahkan kepada keluarga yang berhak.

Dalam proses identifikasi, tim DVI menggunakan data ante mortem dan post mortem sebagai dasar pencocokan. Data ante mortem merupakan informasi mengenai kondisi korban sebelum peristiwa, yang dikumpulkan melalui keluarga atau pihak yang mengenal korban. Informasi tersebut dapat mencakup data medis, catatan gigi, sidik jari yang tersedia, serta sampel DNA keluarga sebagai pembanding apabila diperlukan.

Sementara itu, data post mortem diperoleh dari pemeriksaan terhadap jenazah yang ditemukan. Pemeriksaan dapat meliputi sidik jari, kondisi gigi, ciri medis, barang pribadi yang melekat pada korban, hingga analisis DNA. Seluruh informasi tersebut dibandingkan secara cermat untuk memastikan kecocokan identitas. Proses ini memerlukan ketelitian karena hasil identifikasi menjadi dasar penting sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga.

Kerja sama antara DVI Polri dan ULM memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara institusi kepolisian dan perguruan tinggi dapat mendukung penanganan persoalan kemanusiaan. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik dan keilmuan yang dapat berkontribusi dalam kegiatan sesuai kompetensi serta ruang lingkup kerja sama. Dalam konteks penanganan korban bencana, sinergi lintas institusi menjadi penting untuk membantu pelaksanaan tugas secara terkoordinasi dan bertanggung jawab.

Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan ini menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan berbagai unsur masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama. Dalam penanganan korban kecelakaan kapal, kemitraan dapat mendukung pertukaran pengetahuan, koordinasi sumber daya, serta peningkatan kapasitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi keluarga korban, kepastian identitas memiliki arti yang sangat penting. Proses identifikasi yang akurat membantu keluarga memperoleh kejelasan mengenai anggota keluarga yang menjadi korban sekaligus memungkinkan pelaksanaan proses pemakaman sesuai kebutuhan dan keyakinan masing-masing. Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara profesional dengan tetap menghormati martabat korban serta kondisi psikologis keluarga yang sedang menghadapi masa sulit.

Polri melalui tim DVI juga mengandalkan koordinasi dengan berbagai satuan dan instansi untuk mengumpulkan data pembanding dari keluarga korban. Pengambilan sampel DNA dapat dilakukan apabila metode identifikasi lain belum memberikan hasil yang meyakinkan. Sampel tersebut selanjutnya diperiksa dan dicocokkan dengan materi biologis korban untuk membantu memastikan identitas secara ilmiah.

Selain proses identifikasi, pendampingan dan penyampaian informasi kepada keluarga menjadi aspek penting dalam penanganan korban. Keluarga membutuhkan informasi yang jelas mengenai tahapan pemeriksaan serta perkembangan proses identifikasi. Komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi ketidakpastian, sekaligus memastikan bahwa setiap keputusan mengenai penyerahan jenazah dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam penanganan kecelakaan KM Virgo Transport 8, operasi pencarian dan proses identifikasi merupakan dua pekerjaan yang saling berkaitan, tetapi memiliki tahapan dan tanggung jawab masing-masing. Tim SAR berfokus pada pencarian serta pertolongan, sedangkan tim DVI bertugas memastikan identitas korban meninggal dunia. Koordinasi di antara unsur-unsur tersebut diperlukan agar setiap korban yang ditemukan mendapatkan penanganan sesuai prosedur.

Sinergi antara DVI Polri dan ULM menjadi gambaran pentingnya kemitraan dalam menjalankan misi kemanusiaan. Kerja sama lintas sektor diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap proses identifikasi dan pelayanan bagi keluarga korban, dengan tetap mengutamakan ketepatan hasil pemeriksaan. Pelaksanaan tugas tersebut juga menegaskan bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan sumber daya operasional, tetapi juga keahlian, koordinasi, dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak.

Melalui kolaborasi yang dikaitkan dengan SDG 17, upaya identifikasi korban KM Virgo menjadi pengingat bahwa persoalan kemanusiaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kepastian identitas, penghormatan terhadap martabat korban, dan pelayanan kepada keluarga harus tetap menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan. Proses identifikasi pun perlu terus dilaksanakan berdasarkan hasil pemeriksaan dan prosedur yang berlaku agar informasi mengenai korban dapat disampaikan secara akurat dan bertanggung jawab.

Jurnalis : Rika Anggun Lestari

author avatar
Rika Anggun Lestari
  • Penulis: Rika Anggun Lestari

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less