TNI-Polri Evakuasi Puluhan Pasien di Dua Rumah Sakit Seusai Gempa Labuan Bajo
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, berbincang dengan pasien di tenda darurat di pelataran RS Siloam Labuan Bajo, Sabtu (15/8/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TNI-Polri Evakuasi Puluhan Pasien di Dua Rumah Sakit Seusai Gempa Labuan Bajo
Tim gabungan TNI dan Polri bersama tenaga medis melakukan evakuasi terhadap puluhan pasien rawat inap di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Evakuasi dilakukan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan pasien di tengah kondisi bangunan rumah sakit yang masih perlu diwaspadai akibat guncangan dan potensi gempa susulan.
Pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di dalam gedung dipindahkan menuju area terbuka yang dinilai lebih aman. Proses pemindahan dilakukan secara hati-hati karena sebagian pasien membutuhkan penanganan medis dan tidak semuanya dapat berpindah secara mandiri. Tenaga kesehatan bersama personel TNI dan Polri bekerja sama memastikan proses evakuasi berlangsung tertib serta kebutuhan pasien tetap mendapatkan perhatian.
Di halaman RS Siloam Labuan Bajo, tim gabungan mendirikan tiga tenda darurat yang terdiri atas dua tenda milik Polri dan satu tenda dari Lanal Labuan Bajo. Sementara itu, di halaman RSUD Komodo didirikan satu tenda medis darurat Polri. Fasilitas sementara tersebut digunakan untuk memberikan tempat perawatan bagi pasien selama kondisi bangunan rumah sakit masih dalam pemantauan.
Tenda darurat yang disiapkan dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, termasuk perlengkapan pertolongan pertama dari tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes), ambulans yang disiagakan, serta tempat tidur lipat untuk pasien yang membutuhkan perawatan. Penyiapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari respons cepat menghadapi kondisi darurat setelah gempa.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang menjelaskan bahwa pemindahan pasien dari ruang rawat inap di gedung bertingkat menuju halaman rumah sakit dilakukan dengan sangat hati-hati. Selain mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, petugas juga memperhatikan kondisi psikologis mereka agar proses evakuasi tidak menimbulkan kepanikan maupun tekanan tambahan.
Evakuasi dilakukan karena keselamatan pasien dan tenaga medis menjadi prioritas utama setelah gempa besar mengguncang wilayah Flores. Kondisi bangunan yang terdampak guncangan membuat penggunaan sejumlah ruangan di dalam gedung perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Penempatan pasien di area terbuka melalui tenda darurat menjadi salah satu langkah mitigasi sambil menunggu kondisi dinyatakan lebih aman.
Langkah tersebut juga menunjukkan pentingnya koordinasi antara aparat keamanan dan tenaga kesehatan dalam menghadapi bencana. TNI dan Polri tidak hanya membantu proses pemindahan pasien, tetapi juga mendukung pengamanan lokasi sehingga kegiatan medis dapat tetap berlangsung tanpa terganggu oleh situasi di sekitar rumah sakit.
Kondisi pascagempa di Labuan Bajo juga mendorong sejumlah fasilitas publik melakukan penyesuaian sementara. RSUD Komodo, misalnya, merawat sejumlah pasien di tenda darurat sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tetap diupayakan berjalan meskipun fasilitas utama terdampak bencana.
Gempa yang mengguncang NTT juga menyebabkan sejumlah bangunan dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Di wilayah lain, RSUD Ruteng dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah sehingga sebagian besar pasien harus mendapatkan perawatan di luar gedung. Pemerintah kemudian menyiapkan rumah sakit lapangan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan.
Evakuasi pasien menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan bencana karena kelompok yang berada di rumah sakit termasuk masyarakat yang membutuhkan perlindungan khusus. Pasien yang sedang menjalani perawatan harus tetap memperoleh obat, pemeriksaan, serta pelayanan medis meskipun kondisi fasilitas kesehatan mengalami gangguan.
Kehadiran TNI, Polri, tenaga medis, dan unsur terkait di lokasi diharapkan dapat mempercepat penanganan pascagempa sekaligus memberikan rasa aman kepada pasien dan keluarga. Koordinasi terus dilakukan untuk menyesuaikan pelayanan dengan perkembangan kondisi di lapangan, terutama apabila terjadi gempa susulan.
Penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada evakuasi, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi dan fasilitas kesehatan dapat kembali berfungsi secara optimal. Dengan dukungan berbagai pihak, pelayanan medis di wilayah terdampak diharapkan tetap berjalan hingga kondisi masyarakat dan fasilitas kesehatan berangsur pulih.
Jurnalis : Danilo Fernandes
- Penulis: Danilo Fernandes


Saat ini belum ada komentar