Prosesi Adat Jokowi di Lampung Jadi Sorotan, PDIP Pertanyakan Makna Simbolik Penginjakan Kepala Kerbau
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosesi Adat Jokowi di Lampung Jadi Sorotan, PDIP Pertanyakan Makna Simbolik Penginjakan Kepala Kerbau
Prosesi penganugerahan gelar adat kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), di Provinsi Lampung menjadi perhatian publik setelah beredar dokumentasi yang memperlihatkan salah satu rangkaian ritual adat berupa penginjakan kepala kerbau. Momen tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari sejumlah kalangan, termasuk dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang mempertanyakan makna simbolik dari prosesi tersebut.
Dalam prosesi tersebut, Jokowi menerima gelar adat kehormatan Baginda Pemuka Bangsa yang dianugerahkan oleh lima kerajaan adat di Lampung. Pemberian gelar dilakukan melalui serangkaian ritual adat yang telah dipersiapkan oleh para pemangku adat sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kontribusi Jokowi selama memimpin Indonesia. Seluruh prosesi berlangsung di Rumah Adat Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, serta dihadiri para sultan, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan undangan dari berbagai daerah.
Salah satu tahapan yang menjadi perhatian publik adalah ketika Jokowi mengikuti prosesi menginjak kepala kerbau yang telah disiapkan sebagai bagian dari ritual adat. Tayangan prosesi tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan beragam penafsiran mengenai makna simbolik yang terkandung di dalamnya.
Politikus PDIP, Guntur Romli, menanggapi peristiwa tersebut dengan menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat. Menurutnya, publik dapat menafsirkan sendiri apakah prosesi tersebut murni merupakan bagian dari tradisi adat atau memiliki makna simbolis lain. Ia memilih tidak memberikan kesimpulan atas prosesi tersebut dan menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk memberikan penilaian masing-masing.
Di sisi lain, sejumlah tokoh adat Lampung menjelaskan bahwa prosesi penginjakan kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian upacara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ritual tersebut disebut memiliki makna filosofis sebagai simbol keberanian, penghormatan, pengabdian, serta kesiapan seseorang untuk mengemban amanah yang diberikan oleh masyarakat adat. Mereka menegaskan bahwa prosesi tersebut tidak ditujukan untuk merendahkan pihak tertentu maupun memiliki muatan politik.
Perbedaan pandangan terhadap prosesi tersebut kemudian memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya memahami nilai-nilai budaya sebelum memberikan penafsiran terhadap sebuah ritual adat. Pengamat menilai bahwa tradisi di setiap daerah memiliki filosofi yang berbeda sehingga diperlukan penjelasan dari tokoh adat agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Sejumlah pihak juga mengingatkan agar perdebatan mengenai prosesi adat tidak mengaburkan makna utama dari pelestarian budaya Nusantara. Indonesia memiliki ratusan tradisi adat yang masih dijaga hingga saat ini, dan setiap ritual memiliki nilai sejarah serta filosofi yang berbeda sesuai dengan budaya masyarakat setempat.
Penganugerahan gelar adat kepada tokoh nasional bukan merupakan hal baru di Indonesia. Berbagai daerah kerap memberikan penghormatan kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi terhadap bangsa melalui mekanisme adat yang telah berlaku selama bertahun-tahun. Karena itu, pemahaman terhadap latar belakang budaya menjadi bagian penting agar setiap prosesi dapat dipahami secara utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Terlepas dari berbagai tanggapan yang berkembang, prosesi pemberian gelar adat kepada Jokowi menunjukkan bahwa tradisi budaya daerah masih memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa. Dialog yang terbuka antara tokoh adat, masyarakat, dan berbagai pihak diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai budaya sekaligus menjaga penghormatan terhadap keberagaman adat istiadat di Indonesia.
Jurnalis : Selena
- Penulis: Jurnalis Berita Polri

Saat ini belum ada komentar