KAI Revitalisasi 120 Bangunan Cagar Budaya, Stasiun Jakarta Kota hingga Bogor Dipugar Tahun Ini
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAI Revitalisasi 120 Bangunan Cagar Budaya, Stasiun Jakarta Kota hingga Bogor Dipugar Tahun Ini
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan sejarah nasional melalui program revitalisasi bangunan cagar budaya. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini mengelola lebih dari 600 aset yang berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 bangunan menjadi prioritas untuk direvitalisasi sepanjang tahun 2026 sebagai bagian dari program beautification dan pelestarian aset bersejarah. Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Menurut Bobby, pelestarian bangunan bersejarah merupakan bentuk tanggung jawab KAI dalam menjaga identitas bangsa sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi masyarakat. Program revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga mengembalikan nilai historis yang dimiliki setiap stasiun agar tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Sejumlah stasiun bersejarah di wilayah Jabodetabek menjadi prioritas pengerjaan tahun ini, di antaranya Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok, dan Stasiun Bogor. Ketiga stasiun tersebut akan dipugar dengan mengembalikan tampilan fasad sesuai bentuk aslinya berdasarkan dokumentasi sejarah yang dimiliki KAI. Langkah ini diharapkan mampu mempertahankan karakter arsitektur bangunan tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai pusat layanan transportasi publik.
Sebelumnya, KAI telah menyelesaikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang yang kini berusia lebih dari satu abad. Proses pemugaran berlangsung selama sekitar 330 hari dan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama difokuskan pada pemulihan fasad depan serta area hall utama, sedangkan tahap berikutnya mencakup revitalisasi sisi barat dan timur bangunan dengan mengacu pada foto-foto dokumentasi lama sehingga tampilannya kembali menyerupai bentuk asli ketika pertama kali dibangun.
Selain menjaga nilai sejarah, program revitalisasi juga bertujuan meningkatkan kenyamanan pengguna jasa kereta api. Berbagai fasilitas penunjang akan diperbarui tanpa menghilangkan karakter bangunan cagar budaya. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat menikmati pelayanan transportasi yang modern sekaligus merasakan suasana khas dari bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting perkembangan perkeretaapian di Indonesia.
KAI berharap program revitalisasi ini mampu memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi sektor transportasi, tetapi juga bagi pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya. Keberadaan stasiun-stasiun bersejarah dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata heritage yang dapat menarik minat masyarakat untuk mengenal sejarah perkembangan perkeretaapian nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah sekitar.
Melalui program revitalisasi tersebut, KAI menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara modernisasi layanan transportasi dengan pelestarian warisan budaya bangsa. Dengan mempertahankan keaslian arsitektur bangunan dan meningkatkan kualitas fasilitas, perusahaan berharap seluruh aset cagar budaya yang dikelolanya dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi simbol perjalanan panjang sejarah perkeretaapian Indonesia.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar