Aksi Demonstrasi di Kejaksaan Agung Diwarnai Lemparan Tikus sebagai Simbol Protes
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“`html id=”bhn72x”
Aksi Demonstrasi di Kejaksaan Agung Diwarnai Lemparan Tikus sebagai Simbol Protes
Aksi unjuk rasa yang berlangsung di depan Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, pada Jumat (24/7), menarik perhatian publik setelah massa demonstran melakukan aksi simbolik dengan melempar sejumlah tikus ke halaman gedung. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus sindiran terhadap dugaan praktik korupsi yang menurut mereka harus ditindak secara tegas oleh aparat penegak hukum.
Demonstrasi tersebut digelar oleh kelompok yang mengatasnamakan Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi. Sejak siang hari, puluhan peserta aksi berkumpul di depan pintu masuk Kejaksaan Agung sambil membawa spanduk, poster, serta menyampaikan orasi secara bergantian. Mereka mendesak agar aparat penegak hukum segera menuntaskan penanganan sejumlah perkara dugaan korupsi yang dinilai belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
Dalam orasinya, massa menilai pemberantasan korupsi harus dilakukan secara transparan tanpa memandang jabatan maupun latar belakang pihak yang terlibat. Mereka meminta Kejaksaan Agung menunjukkan komitmen yang kuat dalam menyelesaikan setiap proses hukum sehingga mampu memberikan kepastian hukum sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum.
Puncak aksi terjadi ketika sejumlah demonstran mengeluarkan beberapa ekor tikus dari dalam kardus dan melemparkannya ke arah halaman kantor Kejaksaan Agung. Menurut para peserta aksi, tikus dipilih sebagai simbol koruptor yang selama ini kerap disebut sebagai “tikus berdasi” atau “tikus uang rakyat”. Aksi simbolik tersebut dimaksudkan sebagai pesan agar aparat semakin serius memberantas praktik korupsi yang dinilai merugikan keuangan negara dan masyarakat luas.
Selain menyampaikan tuntutan melalui aksi simbolik, para demonstran juga terus berorasi menggunakan mobil komando. Mereka berharap setiap laporan maupun dugaan tindak pidana korupsi yang telah masuk dapat diproses secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Massa juga meminta agar penegakan hukum dilakukan tanpa adanya perlakuan istimewa terhadap pihak tertentu.
Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan demonstrasi berjalan dengan aman dan kondusif. Personel keamanan melakukan pengamanan di sekitar pintu masuk Gedung Kejaksaan Agung sekaligus mengawasi jalannya aksi agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun pengguna jalan di kawasan tersebut. Hingga aksi berakhir, situasi secara umum masih dapat dikendalikan meskipun sempat diwarnai aksi simbolik pelemparan tikus.
Pengamat menilai bahwa aksi demonstrasi merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat yang dijamin oleh undang-undang. Namun demikian, penyampaian aspirasi diharapkan tetap dilakukan secara damai, tertib, serta tidak menimbulkan kerugian terhadap fasilitas umum maupun membahayakan keselamatan pihak lain. Simbol-simbol yang digunakan dalam aksi unjuk rasa juga menjadi bentuk ekspresi yang lazim digunakan untuk menyampaikan kritik kepada institusi publik.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu pemberantasan korupsi di Indonesia. Berbagai elemen masyarakat berharap aparat penegak hukum terus meningkatkan profesionalisme, independensi, dan transparansi dalam menangani setiap perkara sehingga upaya pemberantasan korupsi dapat berjalan secara efektif serta memberikan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
“`
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar

Saat ini belum ada komentar