Jerit Warga Manggarai Timur Lima Hari Tanpa Bantuan, Pengungsi Mulai Kehabisan Kebutuhan Pokok
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jerit Warga Manggarai Timur Lima Hari Tanpa Bantuan, Pengungsi Mulai Kehabisan Kebutuhan Pokok
Kondisi para korban gempa bumi di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin memprihatinkan. Hingga lima hari setelah bencana terjadi, warga yang mengungsi di lokasi tersebut mengaku belum mendapatkan bantuan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Para pengungsi saat ini sangat membutuhkan bahan makanan dan air minum. Persediaan kebutuhan pokok di sekitar lokasi pengungsian juga semakin terbatas sehingga warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Situasi tersebut membuat para korban harus bertahan dengan sumber daya yang tersisa setelah rumah dan tempat tinggal mereka terdampak gempa.
Salah seorang warga, Zaitun, mengungkapkan bahwa kondisi para pengungsi sudah sangat sulit. Warga bahkan mulai kebingungan mencari tempat untuk mendapatkan bantuan karena persediaan kebutuhan pokok di sejumlah kios sekitar lokasi pengungsian telah habis.
Selama beberapa hari terakhir, sebagian warga terpaksa memanfaatkan beras yang masih dapat ditemukan dari reruntuhan rumah mereka. Namun, persediaan tersebut kini semakin menipis. Di tengah kondisi itu, jumlah pengungsi justru terus bertambah karena warga dari sejumlah lokasi lain memilih bergabung ke Posko Binaan Satar Kampas untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan.
Kondisi semakin berat karena terdapat anak-anak, termasuk balita, yang turut berada di lokasi pengungsian. Kebutuhan mereka tidak hanya berupa makanan dan air minum, tetapi juga berbagai perlengkapan dasar yang diperlukan selama berada di tempat pengungsian.
Sebelumnya, sebagian warga sempat diarahkan untuk mengambil bantuan di Posko Ronting yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi mereka. Namun, persediaan di posko tersebut juga dilaporkan semakin terbatas. Situasi itu kemudian menimbulkan ketegangan di antara para pengungsi yang sama-sama membutuhkan bantuan.
Saat ini, Posko Binaan Satar Kampas menampung lebih dari seratus orang. Selain beras dan air minum, para pengungsi membutuhkan berbagai perlengkapan seperti selimut, sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, dan sikat gigi. Kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak karena warga belum mengetahui kapan bantuan berikutnya dapat diterima.
Gempa yang mengguncang wilayah NTT juga meninggalkan kerusakan di sejumlah kawasan. Banyak warga harus meninggalkan rumah karena bangunan mengalami kerusakan dan kondisi lingkungan belum sepenuhnya aman. Pengungsian menjadi pilihan sementara bagi masyarakat untuk melindungi diri sekaligus menunggu proses penanganan bencana.
Salah seorang warga menceritakan bahwa gempa terjadi pada pagi hari ketika dirinya baru saja bangun. Guncangan yang kuat membuat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri dari dalam rumah. Dalam situasi tersebut, sejumlah bangunan mengalami kerusakan sehingga warga harus segera mencari tempat yang lebih aman.
Di tengah kondisi pengungsian yang masih membutuhkan banyak bantuan, aktivitas gempa susulan juga masih berlangsung. Berdasarkan data BMKG yang dikutip Liputan6.com, hingga Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 06.00 WITA, tercatat sebanyak 2.768 gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT. Gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 24 kejadian tercatat memiliki magnitudo di atas 5 dan 81 kejadian dirasakan oleh masyarakat. BMKG menyebut aktivitas gempa susulan masih berlangsung secara fluktuatif dan belum menunjukkan pola penurunan yang jelas.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan bantuan bagi masyarakat terdampak menjadi semakin penting. Bantuan berupa makanan, air bersih, perlengkapan tidur, perlengkapan kebersihan, serta kebutuhan dasar lainnya diperlukan untuk membantu warga bertahan selama berada di pengungsian.
Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan terus mempercepat distribusi bantuan hingga menjangkau posko-posko yang masih mengalami keterbatasan logistik. Pendataan jumlah pengungsi dan kebutuhan di setiap lokasi juga menjadi penting agar bantuan dapat disalurkan secara merata dan sesuai kondisi di lapangan.
Bagi warga Manggarai Timur yang masih bertahan di pengungsian, bantuan bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan menjadi penopang utama untuk melewati masa sulit setelah bencana. Kondisi mereka menunjukkan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya membutuhkan proses evakuasi dan penyelamatan, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar secara berkelanjutan hingga situasi kembali aman.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar