Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Utama » Kembangkan Biometana, Pertagas Niaga Siap Serap CBG dari reNIKOLA

Kembangkan Biometana, Pertagas Niaga Siap Serap CBG dari reNIKOLA

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kembangkan Biometana, Pertagas Niaga Siap Serap CBG dari reNIKOLA

PT Pertamina Gas melalui PT Pertagas Niaga (PTGN) terus mendorong pengembangan energi terbarukan dengan memperluas pemanfaatan biometana sebagai sumber energi rendah karbon. Dalam langkah tersebut, PTGN akan menjadi pembeli Compressed Biomethane Gas (CBG) yang diproduksi oleh PT RPE atau reNIKOLA melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem biometana di Indonesia sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi yang berasal dari limbah. Berdasarkan informasi yang tersedia, PTGN akan membeli CBG dari PT RPE dalam jangka waktu 15 tahun. Gas terbarukan tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas yang telah tersedia.

Proyek pengembangan biometana ini memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME), yakni limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit, sebagai bahan baku utama. Limbah tersebut diolah sehingga menghasilkan biometana yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Langkah ini sekaligus memberikan nilai tambah terhadap limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi.

Proyek tersebut dirancang dengan mengintegrasikan produksi biometana dari delapan pabrik kelapa sawit milik PT Perkebunan Nusantara IV dengan jaringan distribusi gas yang telah beroperasi. Investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar US$40 juta dan diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 830.000 MMBtu CBG setiap tahun setelah fasilitas beroperasi secara penuh.

PTGN nantinya tidak hanya berperan sebagai pembeli CBG, tetapi juga akan mendukung proses integrasi gas terbarukan tersebut ke dalam infrastruktur yang sudah tersedia. Pemanfaatan jaringan gas yang telah beroperasi diharapkan dapat mempercepat penyaluran energi rendah karbon kepada sektor industri tanpa harus membangun seluruh infrastruktur distribusi dari awal.

President Director PTGN Toto Yulianto menyampaikan bahwa integrasi biometana dengan jaringan gas yang tersedia dapat membuka akses yang lebih luas bagi sektor industri terhadap sumber energi yang lebih bersih. Menurutnya, kolaborasi tersebut juga menjadi langkah untuk mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas yang sudah ada sekaligus mendorong penggunaan energi dengan emisi yang lebih rendah.

Dalam proyek ini, Pertagas juga disebut akan membangun stasiun injeksi biometana khusus pertama di Indonesia yang berlokasi di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. Fasilitas tersebut akan menjadi bagian penting dalam proses memasukkan gas terbarukan ke dalam sistem distribusi sehingga dapat dimanfaatkan oleh konsumen industri.

Pengembangan biometana juga dinilai memiliki manfaat dari sisi lingkungan. Pengolahan POME untuk menghasilkan energi diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 320.000 ton CO2 ekuivalen setiap tahun. Jumlah tersebut disebut setara dengan mencegah pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara.

Selain memberikan manfaat bagi sektor energi, pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi biometana juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri perkebunan. Emisi metana yang berasal dari limbah dapat ditangkap dan diolah menjadi sumber energi, sehingga limbah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai energi terbarukan.

Direktur Utama PTPN IV Jatmiko menilai pemanfaatan emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan menunjukkan bahwa industri kelapa sawit dapat mengambil peran dalam mendukung pembangunan rendah karbon. Pengembangan proyek semacam ini juga membuka peluang bagi sektor perkebunan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperoleh manfaat tambahan dari pengelolaan limbah.

Kerja sama antara Pertagas Niaga dan reNIKOLA menjadi salah satu langkah dalam memperluas penggunaan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik. Dengan dukungan infrastruktur gas yang telah tersedia, biometana diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif energi bagi konsumen industri yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi dengan emisi lebih tinggi.

Pengembangan proyek tersebut juga menunjukkan semakin terbukanya peluang pemanfaatan teknologi untuk mengubah limbah menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi. Ke depan, penguatan kolaborasi antara perusahaan energi, industri perkebunan, dan pengembang teknologi diharapkan dapat memperluas pemanfaatan biometana serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

  • Penulis: Ghazi Fikri Izdihar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less