23 Hotspot Terdeteksi di Kawasan TNBS, Polsek Banyuasin II Lakukan Ground Check dan Pantau Titik Api
- calendar_month 47 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
23 Hotspot Terdeteksi di Kawasan TNBS, Polsek Banyuasin II Lakukan Ground Check dan Pantau Titik Api
BANYUASIN – Sebanyak 23 titik panas atau hotspot terdeteksi di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), Desa Tanah Pilih, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Temuan tersebut langsung ditindaklanjuti petugas dengan melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Ground check dilakukan personel Polsek Banyuasin II bersama pemerintah desa dan masyarakat peduli api (MPA) Desa Tanah Pilih pada Kamis, 3 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kegiatan dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Tim dipimpin Kapolsek Banyuasin II IPTU Muhammad Ardhi Noer, S.H., M.Si. melalui Kanit Reskrim IPDA Andri Wirahadinata, S.H., bersama Bhabinkamtibmas Aipda M. Zulkarnain, S.H., Kepala Desa Tanah Pilih serta anggota MPA.
Untuk menuju lokasi yang terdeteksi sebagai hotspot, petugas menggunakan aplikasi pemetaan sebagai panduan. Perjalanan dilakukan menggunakan transportasi air sebelum tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan yang menjadi sasaran pemeriksaan.
Kondisi geografis kawasan konservasi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi petugas. Minimnya akses jalan membuat perjalanan menuju titik yang paling dekat dengan lokasi hotspot membutuhkan waktu sekitar empat jam menggunakan perahu atau speedboat.
Setelah tiba di kawasan yang dituju, tim melakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan. Berdasarkan hasil ground check, titik panas berada di wilayah lahan konservasi TNBS yang memiliki karakteristik belukar kering dan tanah gambut.
Petugas belum dapat mendekati seluruh titik hotspot secara langsung. Jarak pengamatan berada sekitar 800 hingga 900 meter, terutama pada titik-titik yang lokasinya berkelompok atau saling berdekatan.
Dari hasil pemantauan di lapangan, luas lahan yang diperkirakan terdampak kebakaran mencapai sekitar 16 hektare. Meski demikian, kondisi api saat petugas melakukan pengecekan telah dinyatakan padam.
Namun, petugas masih menemukan asap yang muncul dari dalam tanah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lahan gambut memiliki potensi menyimpan panas di bawah permukaan sehingga pemantauan tetap diperlukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Upaya penanganan sebelumnya juga telah dilakukan melalui operasi water bombing oleh BPBD Kabupaten Banyuasin. Petugas di lapangan kemudian melanjutkan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat indikasi api maupun asap yang dapat berkembang menjadi kebakaran baru.
Kapolres Banyuasin AKBP Risnan Aldino, S.I.K., M.Si. melalui Kasi Humas Polres Banyuasin IPTU Abu Bakar, S.H., menegaskan bahwa pengecekan langsung terhadap hotspot penting dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata di lapangan.
Menurutnya, informasi mengenai titik panas tidak cukup hanya berdasarkan pemantauan dari sistem deteksi. Pemeriksaan langsung diperlukan untuk menentukan langkah penanganan, terlebih ketika lokasi berada di kawasan gambut yang memiliki risiko kebakaran berulang.
Keterbatasan akses menuju kawasan konservasi juga menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla. Karena itu, koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, pengelola kawasan, masyarakat dan instansi terkait terus diperkuat.
Selain melakukan ground check, personel Polsek Banyuasin II bersama pemerintah setempat juga meningkatkan patroli di wilayah yang dianggap rawan kebakaran. Masyarakat turut diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Polres Banyuasin menegaskan akan terus memantau perkembangan hotspot di wilayah tersebut. Langkah pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi larangan membakar hutan dan lahan serta mengajak masyarakat tidak membuka lahan dengan menggunakan api.
Jurnalis : Danilo Fernandes
- Penulis: Danilo Fernandes


Saat ini belum ada komentar