KUII VIII Resmi Digelar, MUI Serukan Persatuan Umat Demi Negara yang Kokoh
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KUII VIII Resmi Digelar, MUI Serukan Persatuan Umat Demi Negara yang Kokoh
Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi membuka Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Forum lima tahunan tersebut mengangkat tema “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”, sebagai wujud komitmen MUI dalam memperkuat sinergi umat Islam untuk menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, keumatan, serta dinamika global yang terus berkembang.
Kongres ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan para ulama, tokoh organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, pemerintah, serta berbagai elemen masyarakat. Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan mampu merumuskan rekomendasi dan langkah nyata yang dapat memperkuat kontribusi umat Islam dalam pembangunan nasional, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, maupun ketahanan bangsa.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Ketua Steering Committee (SC) KUII VIII, KH Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa kongres bukan sekadar agenda organisasi, melainkan amanah besar untuk menjaga persatuan umat sekaligus memperkokoh peradaban Islam yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia. Menurutnya, persatuan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan bangsa yang aman, sejahtera, dan mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Marsudi menilai pembangunan bangsa tidak hanya diukur dari keberhasilan pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari keberhasilan membangun kualitas manusia, memperkuat moralitas, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan mampu menjaga semangat persaudaraan, saling menghormati perbedaan, serta terus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah sebagai modal utama membangun Indonesia.
Selain membahas isu-isu keagamaan, KUII VIII juga mengangkat berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan pendidikan, sains dan teknologi, ekonomi syariah, media digital, geopolitik, pertahanan nasional, hingga pembangunan peradaban Islam di era modern. Seluruh pembahasan tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan mampu menjadi acuan bagi pemerintah maupun organisasi masyarakat dalam menyusun kebijakan yang berpihak kepada kepentingan bangsa.
MUI juga menegaskan bahwa umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional. Melalui kerja sama yang erat antara ulama, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu menjadi negara yang semakin maju, berdaulat, serta menjadi contoh kehidupan beragama yang damai dan harmonis di dunia.
Kongres ini diikuti lebih dari 450 peserta yang berasal dari berbagai unsur, termasuk pengurus MUI pusat dan daerah, sekitar 87 organisasi kemasyarakatan Islam tingkat nasional, perwakilan kementerian, DPR RI, akademisi, serta tokoh masyarakat. Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi dalam membangun masa depan umat dan bangsa melalui dialog, musyawarah, dan penyusunan rekomendasi strategis.
Di akhir pelaksanaan kongres nantinya, MUI diharapkan menghasilkan berbagai keputusan penting yang dapat menjadi pedoman dalam memperkuat peran umat Islam sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus penggerak pembangunan nasional. Dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan gotong royong, KUII VIII diharapkan menjadi momentum memperkokoh fondasi Indonesia sebagai negara yang kuat, berdaulat, dan mampu menghadapi tantangan global secara bersama-sama.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
- Penulis: Rizki Ahmad Noviyandi

Saat ini belum ada komentar