BKSDA Pasang Perangkap untuk Menangani Beruang Madu yang Berkeliaran di Permukiman Lubuklinggau
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BKSDA Pasang Perangkap untuk Menangani Beruang Madu yang Berkeliaran di Permukiman Lubuklinggau
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan bersama pemerintah setempat mengambil langkah untuk menangani kemunculan seekor beruang di sekitar permukiman warga Kelurahan Lubuk Binjai, Lubuklinggau. Petugas memasang perangkap khusus setelah laporan mengenai keberadaan satwa liar tersebut kembali diterima dari masyarakat.
Perangkap dipasang pada Sabtu, 5 September 2026, di lokasi yang dinilai menjadi area lintasan beruang. Pemasangan dilakukan setelah petugas BKSDA bersama pihak kelurahan melakukan pengecekan terhadap lokasi dan menerima informasi dari warga mengenai keberadaan satwa tersebut di sekitar kawasan permukiman.
Perangkap yang telah dipasang akan dipantau secara berkala. Sebagai umpan, petugas menggunakan buah nangka. Apabila umpan tersebut habis, warga diminta menggantinya dengan buah yang baru agar perangkap tetap dapat digunakan untuk memantau keberadaan beruang.
Rencananya, perangkap tersebut akan dipantau selama sekitar satu bulan. Apabila dalam periode tersebut tidak ditemukan lagi tanda-tanda keberadaan beruang, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa satwa tersebut telah meninggalkan kawasan permukiman dan kembali ke habitatnya.
Namun, sejak perangkap dipasang, belum ditemukan tanda-tanda bahwa beruang masuk ke dalam perangkap. Warga justru kembali melaporkan adanya penampakan seekor anak beruang di sekitar kawasan tersebut. Satwa yang terlihat tersebut berukuran kecil dan berdasarkan pengamatan sementara diduga merupakan beruang madu.
Kemunculan beruang tersebut masih membuat sebagian masyarakat merasa khawatir. Warga mengaku tetap waspada karena satwa liar itu masih terlihat di sekitar kawasan permukiman. Meski belum terdapat laporan kerusakan baru setelah kemunculan sebelumnya, masyarakat berharap beruang tersebut segera ditangani agar tidak menimbulkan risiko bagi keselamatan warga.
BKSDA Sumatera Selatan telah melakukan pemeriksaan langsung di lokasi. Petugas memastikan satwa yang dilaporkan warga merupakan beruang madu. Kendati demikian, pihak BKSDA belum dapat memastikan secara pasti alasan satwa tersebut meninggalkan habitat alaminya dan mendekati kawasan yang dihuni masyarakat.
Sebelumnya, seekor beruang dilaporkan keluar dari kawasan hutan dan berkeliaran di sekitar permukiman warga Lubuk Binjai sejak 2 September 2026. Kemunculan satwa tersebut diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan, termasuk cuaca panas dan musim kemarau yang sedang berlangsung.
Selain faktor cuaca, kondisi kawasan hutan dan potensi kebakaran hutan dan lahan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Perubahan kondisi habitat dapat membuat satwa liar bergerak mencari sumber makanan maupun air yang lebih mudah ditemukan, termasuk hingga mendekati kawasan permukiman.
BKSDA bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan untuk memastikan keberadaan beruang tersebut tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Penanganan dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan warga sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi.
Masyarakat di sekitar lokasi diharapkan tetap berhati-hati dan segera melaporkan kepada petugas apabila kembali melihat keberadaan beruang. Warga juga diimbau tidak melakukan tindakan sendiri terhadap satwa tersebut agar situasi tetap aman dan proses penanganan dapat dilakukan oleh pihak yang berwenang.
Langkah pemasangan perangkap dan pemantauan secara berkala menjadi upaya BKSDA untuk mengetahui pergerakan satwa sekaligus mencari solusi yang aman bagi masyarakat dan beruang. Pemerintah setempat bersama petugas konservasi akan terus memantau perkembangan situasi di kawasan Lubuk Binjai.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar