Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis Humanis dalam Pengamanan Aksi BEM UI
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis Humanis dalam Pengamanan Aksi BEM UI
JAKARTA – Kepolisian mengedepankan pendekatan dialogis dan humanis dalam mengamankan aksi unjuk rasa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen masyarakat di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penyampaian aspirasi masyarakat berlangsung tertib, aman, dan tetap menghormati hak warga dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold EP Hutagalung memimpin langsung pelayanan pengamanan dalam kegiatan tersebut. Ia didampingi Dandim 0501/Jakarta Pusat Letkol Inf. Danang Waluyo bersama personel gabungan yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban selama berlangsungnya aksi.
Dalam pelaksanaan pengamanan, aparat mengutamakan komunikasi dengan peserta demonstrasi. Petugas melakukan dialog bersama perwakilan massa untuk membahas lokasi penyampaian aspirasi sekaligus mencari solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan para peserta aksi dan masyarakat umum.
Pendekatan tersebut dilakukan sebagai upaya menghindari kesalahpahaman di lapangan serta mencegah munculnya ketegangan antara peserta unjuk rasa dan petugas. Kepolisian berupaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan tuntutan secara terbuka dengan tetap memperhatikan ketertiban umum, keselamatan, dan kelancaran aktivitas masyarakat.
Negosiasi Lokasi Aksi Masih Berlangsung
Dalam proses pengamanan, aparat berdialog dengan perwakilan mahasiswa mengenai rencana lokasi penyampaian aspirasi. Petugas mengarahkan peserta aksi agar tidak menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan menawarkan alternatif lokasi di depan Gedung UOB, Dukuh Atas.
Namun, pembahasan antara petugas dan perwakilan massa masih berlangsung karena mahasiswa tetap menginginkan agar penyampaian aspirasi dilakukan di kawasan Bundaran HI. Situasi tersebut ditangani melalui komunikasi dan negosiasi guna mencari titik temu di antara kepentingan yang ada.
Kepolisian menilai komunikasi menjadi bagian penting dalam pengamanan aksi unjuk rasa. Melalui dialog, petugas dapat menyampaikan pertimbangan terkait keamanan dan pengaturan ruang publik, sementara peserta aksi memiliki kesempatan untuk mengutarakan keinginan serta alasan mengenai lokasi yang dipilih.
Pengamanan dengan pendekatan persuasif juga diharapkan dapat mengurangi potensi gesekan selama berlangsungnya kegiatan. Dengan mengedepankan komunikasi, setiap persoalan di lapangan diupayakan dapat diselesaikan secara terukur tanpa mengabaikan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat sesuai ketentuan yang berlaku.
Polwan Hadir dengan Pesan Persuasif
Dalam kegiatan tersebut, personel polisi wanita (Polwan) turut dilibatkan untuk mendukung pendekatan yang lebih persuasif kepada peserta aksi. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang baik antara aparat kepolisian dan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi.
Para Polwan membentangkan spanduk bertuliskan, “Selamat datang pejuang aspirasi. Sampaikan pendapat dengan tertib. Kami siap melayani”. Pesan tersebut menegaskan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan kegiatan yang perlu dilayani dengan tetap memperhatikan ketertiban dan keselamatan bersama.
Pendekatan humanis dalam pengamanan tidak hanya berkaitan dengan cara petugas berkomunikasi, tetapi juga bagaimana aparat menjalankan tugas secara profesional dan proporsional. Dengan komunikasi yang terbuka, diharapkan hubungan antara petugas dan peserta aksi tetap terjaga sehingga pelaksanaan demonstrasi dapat berlangsung secara kondusif.
Selain memberikan pelayanan kepada peserta demonstrasi, petugas juga memperhatikan kebutuhan masyarakat lain yang beraktivitas di sekitar lokasi. Keseimbangan antara kebebasan menyampaikan aspirasi dan kepentingan umum menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengamanan kegiatan tersebut.
Pengaturan Lalu Lintas Dilakukan untuk Mengantisipasi Kepadatan
Di tengah berlangsungnya aksi, petugas turut melakukan pengaturan lalu lintas untuk mengantisipasi dampak kegiatan terhadap mobilitas masyarakat. Pengaturan tersebut dilakukan karena kawasan Dukuh Atas dan Bundaran HI merupakan area yang memiliki aktivitas masyarakat serta arus kendaraan yang cukup tinggi.
Berdasarkan informasi kepolisian, arus lalu lintas dari depan Gedung UOB menuju Bundaran HI ditutup total selama penanganan kegiatan. Sementara itu, arus kendaraan dari Bundaran HI menuju Semanggi terpantau berjalan normal.
Pengaturan lalu lintas dilakukan untuk membantu menjaga kelancaran perjalanan pengguna jalan sekaligus memberikan ruang bagi aparat dalam mengelola situasi di sekitar lokasi demonstrasi. Petugas juga memantau perkembangan kondisi secara berkala agar langkah pengaturan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Personel gabungan terus berkoordinasi untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah peserta aksi maupun pergerakan massa menuju kawasan Bundaran HI. Pemantauan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi agar perubahan situasi dapat direspons dengan cepat dan terukur.
Masyarakat yang melintas di sekitar lokasi diharapkan memperhatikan arahan petugas serta menyesuaikan perjalanan apabila terdapat pengalihan arus. Koordinasi antara petugas pengamanan dan petugas lalu lintas diperlukan untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas warga.
Polri Berupaya Menjaga Keseimbangan Hak dan Ketertiban Umum
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold EP Hutagalung menegaskan bahwa pelayanan pengamanan aksi dilakukan dengan mengedepankan komunikasi dan pendekatan humanis. Upaya tersebut bertujuan memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran aktivitas warga lainnya.
Dalam kegiatan penyampaian pendapat di muka umum, pengamanan tidak hanya berfokus pada keberadaan personel di lokasi, tetapi juga mencakup upaya membangun komunikasi dengan peserta aksi, mengelola potensi gangguan, serta memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman.
Pendekatan dialogis diharapkan menjadi sarana untuk menyelesaikan perbedaan pandangan melalui komunikasi yang konstruktif. Dengan demikian, aspirasi dapat disampaikan secara tertib, sedangkan kepentingan masyarakat yang tidak terlibat dalam aksi tetap mendapatkan perhatian.
Di sisi lain, penyampaian pendapat di muka umum merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang perlu dihormati. Pelaksanaannya tetap harus memperhatikan ketentuan hukum, keselamatan peserta, serta hak masyarakat lain yang menggunakan fasilitas umum.
Oleh karena itu, kerja sama antara aparat dan peserta demonstrasi menjadi faktor penting dalam menjaga situasi tetap kondusif. Komunikasi yang terbuka, sikap saling menghormati, dan kepatuhan terhadap aturan diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya kesalahpahaman maupun gangguan keamanan.
Koordinasi Personel Gabungan Terus Dilakukan
Pengamanan aksi BEM UI di kawasan Dukuh Atas melibatkan personel gabungan yang bekerja secara terkoordinasi. Kehadiran unsur kepolisian dan TNI dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga situasi keamanan sekaligus mendukung penanganan kondisi di lapangan.
Koordinasi dilakukan untuk memantau perkembangan aksi, mengantisipasi perubahan jumlah peserta, serta memastikan pengaturan lalu lintas berjalan sesuai kebutuhan. Dengan pemantauan berkelanjutan, petugas dapat menentukan langkah yang diperlukan berdasarkan kondisi aktual di lokasi.
Kepolisian juga menekankan pentingnya pelayanan yang mengedepankan keselamatan seluruh pihak. Peserta aksi, petugas, pengguna jalan, dan masyarakat di sekitar lokasi merupakan bagian dari kelompok yang perlu diperhatikan selama kegiatan berlangsung.
Melalui koordinasi dan pendekatan persuasif, aparat berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan penyampaian aspirasi berjalan tertib tanpa mengabaikan kepentingan umum. Setiap perkembangan situasi diharapkan dapat ditangani secara profesional sesuai prosedur yang berlaku.
Dialog Menjadi Kunci Pengamanan Aksi yang Kondusif
Pengamanan unjuk rasa BEM UI di Dukuh Atas menunjukkan pentingnya komunikasi dalam mengelola kegiatan penyampaian pendapat di ruang publik. Dialog antara petugas dan perwakilan massa menjadi salah satu cara untuk membahas perbedaan pandangan serta mencari penyelesaian yang dapat diterima dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan.
Di tengah dinamika kegiatan masyarakat di Jakarta, pengaturan lokasi demonstrasi dan lalu lintas membutuhkan koordinasi yang baik agar tidak menimbulkan gangguan lebih luas. Karena itu, keterlibatan seluruh pihak dalam menjaga ketertiban menjadi unsur penting selama kegiatan berlangsung.
Polri melalui pelayanan pengamanan tersebut berupaya memastikan masyarakat dapat menyampaikan aspirasi dengan tertib, sementara aktivitas warga lainnya tetap mendapatkan perhatian. Pendekatan dialogis dan humanis diharapkan dapat mendukung terciptanya suasana yang aman, tertib, dan saling menghormati.
Dengan mengedepankan komunikasi, koordinasi, serta pengaturan situasi yang terukur, pelaksanaan pengamanan diharapkan tetap berorientasi pada perlindungan masyarakat dan penghormatan terhadap hak menyampaikan pendapat. Upaya tersebut menjadi bagian dari pelayanan kepolisian dalam menjaga ketertiban di ruang publik.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
- Penulis: Rizki Ahmad Noviyandi


Saat ini belum ada komentar