Terpapar Asap Karhutla di Sampit, Induk dan Anak Orang Utan Berhasil Dievakuasi
- calendar_month -1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Terpapar Asap Karhutla di Sampit, Induk dan Anak Orang Utan Berhasil Dievakuasi
Kabar baik datang dari kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Sepasang orang utan yang terdiri dari induk dan anak berhasil diselamatkan setelah ditemukan berada di kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Induk orang utan yang kemudian diberi nama Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sementara anaknya yang bernama Rayu diperkirakan masih berusia sekitar satu tahun. Keduanya ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran. Kondisi tersebut membuat tim penyelamat segera melakukan evakuasi untuk memastikan keselamatan kedua satwa dilindungi tersebut.
Proses penyelamatan dilakukan oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI). Evakuasi berlangsung di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotim, pada Rabu, 2 September 2026.
Sebelum dievakuasi, Raya dan Rayu sempat terpapar asap akibat kebakaran yang terjadi di sekitar habitat mereka. Meski demikian, hasil pemeriksaan awal menunjukkan kondisi keduanya masih tergolong baik. Tim dokter hewan juga memastikan kedua orang utan masih memberikan respons dan menunjukkan aktivitas setelah proses penyelamatan.
Dokter hewan OFI, drh Ichlasul Khaerul, menjelaskan bahwa aktivitas dan respons kedua orang utan menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi mereka setelah dievakuasi. Selama proses penyelamatan dan pemeriksaan awal, Raya dan Rayu masih menunjukkan respons yang baik.
Paparan asap memang menjadi salah satu risiko serius bagi satwa liar yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Namun, pada pemeriksaan sementara, Raya dan Rayu belum menunjukkan tanda-tanda gangguan akibat asap dalam kondisi berat. Tim tetap melakukan pemantauan karena dampak paparan asap terhadap saluran pernapasan dapat berkembang setelah beberapa waktu.
Selain memeriksa kondisi pernapasan, tim juga memastikan apakah kedua satwa mengalami luka akibat kebakaran. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ditemukan luka bakar maupun luka terbuka pada tubuh Raya dan Rayu. Keduanya juga tidak menunjukkan tanda cedera akibat benturan atau tertimpa pohon selama berada di kawasan terdampak karhutla.
Meskipun secara umum terlihat sehat, tim tetap memberikan perhatian terhadap kemungkinan dehidrasi yang dapat dialami satwa akibat suhu panas dan kondisi lingkungan yang terdampak kebakaran. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel untuk mengetahui kondisi kesehatan keduanya secara lebih menyeluruh.
Sampel darah dan rambut telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Tim juga masih berupaya memperoleh sampel lain yang diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan kesehatan Raya dan Rayu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemantauan sebelum menentukan tindakan rehabilitasi atau penanganan lanjutan bagi kedua orang utan tersebut.
Karhutla Ancam Habitat Satwa
Kejadian ini kembali menunjukkan dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar yang hidup di kawasan hutan Kalimantan. Ketika habitat terbakar atau dipenuhi asap, satwa dapat kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan sehingga berpotensi berpindah ke kawasan lain yang lebih aman.
Orang utan merupakan salah satu satwa yang sangat bergantung pada keberadaan hutan sebagai habitatnya. Kerusakan kawasan hutan akibat kebakaran tidak hanya mengancam keselamatan satwa secara langsung, tetapi juga dapat mengurangi ruang hidup dan ketersediaan sumber makanan dalam jangka panjang.
Karena itu, penyelamatan Raya dan Rayu tidak berhenti pada proses evakuasi. Pemantauan kondisi kesehatan menjadi bagian penting untuk memastikan keduanya benar-benar pulih dan dapat mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan konservasi.
Keberhasilan evakuasi ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan keselamatan manusia dan pemadaman api. Perlindungan terhadap ekosistem serta satwa liar yang berada di kawasan terdampak juga menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla diharapkan turut membantu dengan melaporkan apabila menemukan satwa liar yang terjebak, terluka, atau keluar dari habitatnya. Informasi dari masyarakat dapat membantu petugas konservasi melakukan tindakan penyelamatan dengan lebih cepat dan tepat.
Untuk sementara, kondisi Raya dan Rayu masih terus dipantau oleh tim. Hasil pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar dalam menentukan penanganan berikutnya bagi induk dan anak orang utan tersebut. Penyelamatan keduanya menjadi kabar positif di tengah ancaman karhutla yang masih berdampak terhadap kawasan hutan dan kehidupan satwa di Kalimantan Tengah.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar