Polri Andalkan Teknologi Satelit untuk Deteksi Titik Api, Penanganan Karhutla Dipercepat
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polri Andalkan Teknologi Satelit untuk Deteksi Titik Api, Penanganan Karhutla Dipercepat
Polri terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memanfaatkan teknologi pemantauan berbasis satelit. Data yang diperoleh dari satelit digunakan untuk mendeteksi titik api lebih awal sehingga petugas dapat segera melakukan pengecekan dan mengambil langkah penanganan apabila ditemukan kebakaran.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi Polri dalam menangani karhutla selama pelaksanaan Operasi Aman Nusa II periode Juli hingga September 2026. Informasi mengenai titik api yang diperoleh melalui sistem pemantauan kemudian diteruskan ke dashboard dan Crisis Monitoring Center untuk ditindaklanjuti oleh personel di lapangan.
Kabag Pulahjianta Polri Kombes Pol. Erwin Sinaga menjelaskan bahwa data satelit menjadi salah satu dasar bagi personel untuk melakukan verifikasi kondisi di lapangan. Setelah informasi diterima, petugas diarahkan untuk melakukan pengecekan melalui patroli darat maupun udara guna memastikan apakah titik yang terdeteksi benar-benar merupakan kebakaran.
Apabila hasil pengecekan menunjukkan adanya api, personel segera dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Perkembangan penanganan selanjutnya dilaporkan secara berkala melalui aplikasi Daily Operating Reporting System atau DORS. Sistem tersebut digunakan untuk membantu pencatatan dan pemantauan perkembangan penanganan karhutla.
Penggunaan data satelit dinilai membantu memperkuat sistem deteksi dini di wilayah yang memiliki potensi karhutla. Dengan adanya informasi awal mengenai lokasi yang terindikasi memiliki titik panas, petugas dapat melakukan pemeriksaan lebih cepat sehingga potensi kebakaran dapat segera diketahui dan ditangani.
Selain mengandalkan teknologi, Polri juga mengembangkan sejumlah langkah pencegahan melalui pembentukan satuan tugas, peningkatan deteksi dini, patroli rutin, edukasi kepada masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Dalam operasi penanggulangan karhutla, sejumlah kepolisian daerah di wilayah prioritas turut mengerahkan ribuan personel. Polda Riau dan jajaran melibatkan 4.764 personel, Polda Jambi sebanyak 873 personel, serta Polda Sumatera Selatan mengerahkan 1.000 personel.
Sementara itu, Polda Kalimantan Barat mengerahkan 1.611 personel dalam tiga tahap dan mendapatkan tambahan 300 personel bantuan dari Brimob. Polda Kalimantan Timur melibatkan 1.821 personel, Polda Kalimantan Tengah sebanyak 3.343 personel, sedangkan Polda Kalimantan Selatan mengerahkan 778 personel dalam mendukung penanganan karhutla di wilayah masing-masing.
Dukungan personel juga diberikan oleh Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri. Sebanyak 403 personel dari Lemdiklat Polri yang terdiri dari Sespimti, Sespimmen, dan Setukpa dikirim ke sejumlah wilayah Polda selama 25 hari. Selain membantu kegiatan operasional, mereka turut mendukung edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Polri juga telah mendistribusikan alat material khusus atau Almatsus ke sejumlah Polda prioritas. Penyediaan peralatan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kesiapan personel dalam menghadapi potensi karhutla serta mendukung kegiatan pemadaman ketika kebakaran ditemukan.
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. Polri juga menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari strategi melalui pemantauan titik api, patroli, sosialisasi kepada masyarakat, serta pengawasan terhadap wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
Mekanisme pemantauan berbasis satelit memungkinkan informasi mengenai titik api segera diteruskan kepada petugas untuk dilakukan verifikasi. Dengan pola tersebut, data dari teknologi pemantauan dapat dihubungkan dengan tindakan langsung di lapangan, mulai dari pemeriksaan lokasi hingga pemadaman apabila keberadaan api benar-benar dipastikan.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi salah satu bagian dalam memperkuat respons terhadap karhutla. Namun, pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak karena sebagian besar wilayah rawan kebakaran memiliki kondisi geografis yang luas dan membutuhkan pengawasan secara berkelanjutan.
Melalui kombinasi teknologi satelit, sistem pemantauan, patroli lapangan, kesiapan personel, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum, Polri berupaya mempercepat respons terhadap potensi karhutla. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan serta masyarakat di wilayah terdampak.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar