Kapolri Listyo Sigit: Tepung Singkong Jadi Alternatif Padamkan Karhutla, Temuan Babinsa Lubuklinggau
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kapolri Listyo Sigit: Tepung Singkong Jadi Alternatif Padamkan Karhutla, Temuan Babinsa Lubuklinggau
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyoroti sebuah temuan dari Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, yang memanfaatkan tepung singkong sebagai salah satu alternatif dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Inovasi tersebut mendapat perhatian karena menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menghadapi kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan karhutla tidak hanya dapat mengandalkan metode pemadaman konvensional. Pemanfaatan bahan yang mudah diperoleh di sekitar masyarakat menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung proses penanganan kebakaran, selama penggunaannya telah melalui pengujian dan memenuhi aspek keselamatan.
Karhutla merupakan salah satu persoalan yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi. Kondisi lahan yang kering, cuaca panas, serta angin yang cukup kuat dapat membuat api dengan cepat meluas. Karena itu, kesiapan personel dan ketersediaan metode penanganan yang efektif menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran berkembang semakin besar.
Inovasi yang ditemukan oleh Babinsa di Lubuklinggau tersebut menjadi contoh bahwa keterlibatan aparat hingga tingkat kewilayahan dapat menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi penanganan persoalan di lapangan. Babinsa yang berada dekat dengan masyarakat dan kondisi wilayah memiliki kesempatan untuk menemukan metode maupun pendekatan baru berdasarkan situasi yang dihadapi secara langsung.
Kapolri memberikan perhatian terhadap inovasi tersebut karena penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi dari berbagai unsur. Tidak hanya kepolisian dan TNI, tetapi juga pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, perusahaan yang berada di wilayah rawan kebakaran, serta masyarakat harus terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan.
Meski demikian, setiap inovasi dalam penanganan kebakaran tetap perlu dikaji secara ilmiah untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Penggunaan suatu bahan sebagai bagian dari metode pemadaman harus mempertimbangkan kondisi kebakaran, karakteristik lahan, dampak terhadap lingkungan, serta keselamatan petugas yang berada di lokasi.
Upaya pencegahan juga tetap menjadi langkah utama dalam menghadapi ancaman karhutla. Masyarakat dan pihak yang melakukan aktivitas di kawasan rawan kebakaran diharapkan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan. Pemantauan titik rawan, peningkatan kesiapsiagaan, serta respons cepat ketika muncul tanda-tanda kebakaran dapat membantu mencegah api meluas.
Temuan dari Lubuklinggau tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus mendorong munculnya inovasi lain dalam penanganan karhutla di berbagai daerah. Dengan dukungan teknologi, penelitian, serta kerja sama lintas sektor, penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan secara lebih efektif dan terukur.
Penanganan karhutla pada akhirnya bukan hanya mengenai bagaimana memadamkan api, tetapi juga bagaimana mencegah kebakaran terjadi dan mengurangi dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat. Karena itu, setiap inovasi yang muncul dari lapangan perlu mendapatkan perhatian, penelitian, dan pengembangan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
- Penulis: Rizki Ahmad Noviyandi


Saat ini belum ada komentar