Kepala BNN Cerita Keberhasilan Tangkap Dewi Astutik Buron Kasus 2 Ton Sabu
- calendar_month 6 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kepala BNN Ungkap Perjalanan Panjang Penangkapan Dewi Astutik, Buronan Kasus Penyelundupan 2 Ton Sabu
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, mengungkapkan proses panjang yang akhirnya berhasil membawa aparat menangkap Dewi Astutik, buronan utama dalam kasus penyelundupan narkotika jenis sabu seberat dua ton. Menurut Suyudi, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama lintas negara yang melibatkan berbagai lembaga penegak hukum, intelijen, serta dukungan dari mitra internasional dalam memburu jaringan narkotika berskala global.
Dalam keterangannya pada peringatan Hari Anti Narkotika Nasional, Suyudi menjelaskan bahwa penangkapan Dewi Astutik tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Aparat membutuhkan proses pelacakan yang panjang untuk memetakan keberadaan tersangka beserta jaringan yang selama ini beroperasi di kawasan Asia Tenggara. Berbagai informasi intelijen dianalisis secara mendalam sebelum akhirnya dilakukan operasi gabungan yang berhasil mengamankan buronan tersebut tanpa menimbulkan gangguan terhadap jalannya penyelidikan.
Dewi Astutik diduga memiliki peran penting sebagai aktor intelektual di balik upaya penyelundupan sabu seberat dua ton yang sebelumnya berhasil digagalkan aparat. Kasus tersebut menjadi salah satu pengungkapan narkotika terbesar dalam sejarah Indonesia, dengan nilai barang bukti yang diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Keberhasilan menggagalkan penyelundupan tersebut dinilai mampu mencegah jutaan masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak kesehatan, kehidupan sosial, serta masa depan generasi muda.
Suyudi menegaskan bahwa keberhasilan operasi tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam menghadapi kejahatan transnasional. BNN bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia, Badan Intelijen Strategis (BAIS), Interpol, Kepolisian Kamboja, Kementerian Luar Negeri, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta berbagai instansi terkait lainnya. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menelusuri pergerakan pelaku yang berpindah-pindah lintas negara untuk menghindari penangkapan aparat penegak hukum.
Menurut Kepala BNN, jaringan narkotika internasional terus mengembangkan berbagai modus operandi untuk menyelundupkan barang haram ke Indonesia. Oleh karena itu, aparat penegak hukum dituntut meningkatkan kemampuan intelijen, pengawasan wilayah perbatasan, serta kerja sama dengan negara lain agar setiap upaya penyelundupan dapat digagalkan sejak dini. Ia juga menilai bahwa pemberantasan narkotika bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
BNN memastikan bahwa penangkapan Dewi Astutik bukanlah akhir dari upaya pemberantasan jaringan tersebut. Penyidik masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak-pihak lain yang diduga terlibat, termasuk menelusuri aliran dana, jaringan distribusi, serta kemungkinan keterlibatan pelaku di sejumlah negara. Langkah tersebut diharapkan mampu memutus mata rantai peredaran narkotika internasional yang selama ini menyasar Indonesia sebagai salah satu pasar utama.
Pemerintah melalui BNN juga mengajak masyarakat untuk terus berperan aktif dalam memerangi penyalahgunaan narkoba dengan memberikan informasi kepada aparat apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan. Upaya pencegahan, edukasi, rehabilitasi, dan penegakan hukum diharapkan berjalan secara beriringan sehingga Indonesia dapat memperkuat ketahanan nasional terhadap ancaman kejahatan narkotika yang semakin kompleks dan terorganisir.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
- Penulis: Rizki Ahmad Noviyandi

Saat ini belum ada komentar