Rasio Tabungan Masyarakat Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia, LPS Dorong Penguatan Pembiayaan Domestik
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Rasio Tabungan Masyarakat Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia, LPS Dorong Penguatan Pembiayaan Domestik
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti masih rendahnya rasio tabungan masyarakat Indonesia dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk Malaysia. Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas pembiayaan domestik sehingga tidak terlalu bergantung pada aliran modal asing dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data yang disampaikan LPS, rasio Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 42,2 persen. Angka tersebut masih berada di bawah beberapa negara tetangga, seperti Malaysia yang memiliki rasio sekitar 125,5 persen, Vietnam 127,2 persen, Thailand 85,6 persen, India 66 persen, Filipina 65,9 persen, hingga Brasil sebesar 56 persen. Menurut LPS, kondisi ini menunjukkan bahwa ruang untuk memperbesar pembiayaan dari tabungan masyarakat masih sangat terbuka.
Anggito menjelaskan bahwa pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan idealnya ditopang oleh kekuatan dana domestik. Semakin besar tingkat tabungan masyarakat, semakin kuat pula kemampuan sektor keuangan dalam menyalurkan pembiayaan kepada dunia usaha, pembangunan infrastruktur, serta berbagai sektor produktif tanpa terlalu bergantung pada sumber pendanaan dari luar negeri.
Selain mendorong peningkatan budaya menabung, LPS juga menilai perluasan akses layanan keuangan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hingga kini, jumlah masyarakat yang belum memiliki rekening perbankan masih cukup besar. Oleh karena itu, digitalisasi layanan keuangan diharapkan tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga mampu memperluas inklusi keuangan sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses produk dan layanan perbankan secara mudah dan aman.
LPS menilai penguatan sektor keuangan nasional perlu dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan literasi keuangan, perluasan akses perbankan, serta pengembangan instrumen investasi domestik. Dengan semakin besarnya dana masyarakat yang tersimpan dalam sistem keuangan formal, kapasitas pembiayaan nasional akan meningkat dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Pengamat ekonomi juga menilai bahwa peningkatan rasio tabungan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Tingginya dana domestik akan memberikan ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan kredit kepada sektor produktif, sekaligus meningkatkan stabilitas sistem keuangan ketika terjadi gejolak ekonomi global.
Ke depan, LPS berharap sinergi antara pemerintah, otoritas keuangan, industri perbankan, serta pelaku usaha dapat terus diperkuat untuk mendorong budaya menabung di masyarakat. Melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan, Indonesia diharapkan mampu memperbesar sumber pembiayaan dari dalam negeri sehingga ketahanan ekonomi nasional semakin kuat dan mampu bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asia.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar

Saat ini belum ada komentar