Polisi Ikut Rawat Budaya, Osob Kiwalan Didorong Tetap Hidup di Kota Malang
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

#image_title
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polisi Ikut Rawat Budaya, Osob Kiwalan Didorong Tetap Hidup di Kota Malang
Upaya menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Malang tidak hanya dilakukan melalui kegiatan kepolisian. Polresta Malang Kota turut mengambil bagian dalam menjaga identitas dan kekayaan budaya lokal dengan mendorong pelestarian Osob Kiwalan atau yang lebih dikenal sebagai Boso Walikan.
Bahasa khas Malang tersebut telah lama menjadi salah satu identitas masyarakat Malangan. Keberadaannya tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah, pergaulan, dan karakter masyarakat Kota Malang. Karena itu, pelestarian Osob Kiwalan dinilai penting agar keberadaannya tetap dikenal dan digunakan oleh generasi berikutnya.
Upaya tersebut dibahas dalam Temu Budaya Ngalam Hebak yang digelar Polresta Malang Kota bersama Pemerintah Kota Malang, akademisi, komunitas, serta para pegiat budaya. Kegiatan tersebut berlangsung di Sanggar Sasana Krida Budaya, Kelurahan Rampal Celaket, pada Minggu, 27 September 2026.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi mengatakan bahwa menjaga Osob Kiwalan tidak sekadar mempertahankan sebuah bahasa daerah. Menurutnya, keberadaan bahasa tersebut juga berkaitan dengan rasa memiliki masyarakat terhadap Kota Malang dan nilai kebersamaan yang tumbuh di dalam kehidupan masyarakat.
Ia menilai Osob Kiwalan telah menjadi ciri khas yang melekat dengan Kota Malang sehingga perlu terus dijaga, dilestarikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Pelestarian budaya tersebut diharapkan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah atau komunitas tertentu, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Gagasan pelestarian Osob Kiwalan sendiri muncul dari berbagai diskusi yang melibatkan akademisi dan masyarakat. Dari pembahasan tersebut, muncul pandangan bahwa budaya lokal perlu dirawat secara bersama-sama agar karakter masyarakat Malangan tetap terjaga di tengah perubahan zaman dan perkembangan kehidupan perkotaan.
Menurut Danang, Kota Malang memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan dikenal sebagai daerah yang melahirkan berbagai potensi, mulai dari atlet, pesepak bola, budayawan hingga seniman. Potensi tersebut dinilai perlu terus dikembangkan melalui kerja sama berbagai pihak sehingga semakin memperkuat identitas Malang sebagai kota pendidikan, wisata, dan kuliner.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memiliki rasa tanggung jawab bersama terhadap perkembangan Kota Malang. Menjaga kota, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban, tetapi juga bagaimana masyarakat merawat nilai budaya serta identitas lokal yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turut mengapresiasi keterlibatan Polresta Malang Kota dalam upaya menjaga keberadaan Osob Kiwalan. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan semangat pembangunan daerah yang mengedepankan konsep Malang Mbois Berkelas sekaligus tetap mempertahankan kearifan lokal.
Wahyu menyebut Osob Kiwalan memiliki nilai sejarah yang kuat dan berkaitan dengan perjalanan masyarakat Malang. Bahasa tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sosok Mayor Hamid Rusdi, salah satu tokoh perjuangan asal Malang yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat.
Menurut Wahyu, Osob Kiwalan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang unik dan menjadi bagian dari kekompakan masyarakat Malangan. Karena itu, keberadaannya perlu dipertahankan agar tidak hilang akibat perubahan zaman dan perkembangan pola komunikasi masyarakat.
Pelestarian budaya juga diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan berbagai potensi lokal. Ruang-ruang kebudayaan seperti Kampung Celaket dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menghidupkan kembali berbagai kegiatan budaya di Kota Malang.
Semangat pelestarian tersebut juga tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang lahir dan besar di Malang. Warga dari luar daerah yang tinggal maupun menempuh pendidikan di Kota Malang juga diharapkan dapat mengenal berbagai budaya lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Dengan demikian, pelestarian Osob Kiwalan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Bahasa khas Malang tersebut diharapkan tetap digunakan, dikenalkan, dan diwariskan secara berkelanjutan sehingga dapat terus menjadi bagian dari identitas Kota Malang.
Kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat menjadi salah satu langkah yang dapat memperkuat upaya tersebut. Pelestarian budaya juga dapat berjalan bersamaan dengan upaya menciptakan lingkungan kota yang aman, nyaman, dan memiliki karakter yang kuat.
Melalui berbagai upaya tersebut, Kota Malang diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota yang aman dan nyaman, tetapi juga sebagai daerah yang mampu mempertahankan kekayaan budaya lokalnya. Osob Kiwalan menjadi salah satu identitas yang diharapkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
- Penulis: Ghazi Fikri Izdihar


Saat ini belum ada komentar