Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Utama » Pramono Anung Siapkan Pasar Baru Jadi Pusat Kuliner 24 Jam ala Myeongdong Korea Selatan Mulai 2027

Pramono Anung Siapkan Pasar Baru Jadi Pusat Kuliner 24 Jam ala Myeongdong Korea Selatan Mulai 2027

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pramono Anung Siapkan Pasar Baru Jadi Pusat Kuliner 24 Jam ala Myeongdong Korea Selatan Mulai 2027

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana menata kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjadi destinasi kuliner yang beroperasi selama 24 jam dengan konsep menyerupai Myeongdong di Korea Selatan. Rencana tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027 setelah pengembangan kawasan Blok M Hub berjalan sesuai tahapan yang direncanakan. Penataan ini menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat daya tarik wisata, menghidupkan aktivitas ekonomi, dan menghadirkan karakter berbeda di sejumlah kawasan ikonik ibu kota.

Pramono menyampaikan rencana tersebut setelah menghadiri penandatanganan kerja sama antara badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN), dan perangkat daerah di Balai Kota Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa Pasar Baru akan menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan setelah proyek penataan Blok M. Konsep yang dibayangkan adalah pusat kuliner dengan aktivitas hingga malam hari, terinspirasi dari kawasan Myeongdong yang dikenal sebagai salah satu tujuan belanja dan wisata kuliner di Seoul, Korea Selatan.

Menurut Pramono, penataan Pasar Baru tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rencana pengembangan kawasan perkotaan dengan identitas tematik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin memberikan ciri khas berbeda kepada sejumlah wilayah agar pengunjung memiliki pilihan pengalaman wisata yang beragam. Blok M akan diarahkan dengan sentuhan Jepang, sedangkan Pasar Baru direncanakan memiliki nuansa Korea dengan penekanan pada kegiatan kuliner dan perdagangan.

Gagasan menghadirkan kawasan kuliner 24 jam di Pasar Baru diharapkan dapat memperluas aktivitas ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha makanan dan minuman, pedagang, serta sektor pendukung pariwisata. Jika dirancang dan dilaksanakan dengan baik, kegiatan ekonomi yang berlangsung lebih lama berpotensi membuka kesempatan usaha dan memperluas pilihan bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Jakarta. Meski demikian, konsep tersebut masih berupa rencana penataan yang perlu ditindaklanjuti melalui perencanaan teknis dan pelaksanaan di lapangan.

Pasar Baru sendiri merupakan salah satu kawasan perdagangan bersejarah di Jakarta yang memiliki aktivitas niaga dan karakter lokal tersendiri. Pengembangan kawasan tersebut perlu memperhatikan keberadaan pedagang yang sudah lama berusaha, kebutuhan pengunjung, akses pejalan kaki, serta kenyamanan lingkungan sekitar. Penataan yang terencana diharapkan dapat memperkuat daya tarik kawasan tanpa menghilangkan identitas sejarah dan aktivitas ekonomi yang telah berkembang di dalamnya.

Selain Pasar Baru dan Blok M, Pramono juga memaparkan rencana penataan kawasan Glodok dan Kota Tua. Glodok akan dikembangkan dengan tetap menonjolkan identitas Pecinan atau kawasan bernuansa Tionghoa, termasuk kekayaan kuliner yang telah menjadi ciri khas wilayah tersebut. Sementara itu, Kota Tua direncanakan memiliki suasana yang terinspirasi dari arsitektur dan karakter kawasan Eropa untuk memperkuat daya tariknya sebagai tujuan wisata sejarah.

Dengan konsep tersebut, pemerintah daerah membayangkan empat kawasan yang memiliki karakter berbeda, yakni Blok M dengan sentuhan Jepang, Pasar Baru dengan nuansa Korea, Glodok yang menonjolkan identitas Tionghoa, serta Kota Tua dengan atmosfer Eropa. Pendekatan tematik ini diharapkan dapat memperkaya pilihan wisata di Jakarta sekaligus membantu setiap kawasan memiliki daya tarik yang lebih jelas bagi pengunjung domestik maupun mancanegara.

Pramono juga mengaitkan rencana penataan kawasan tersebut dengan pengembangan transportasi publik, khususnya Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Konektivitas transportasi dinilai penting agar masyarakat dapat menjangkau berbagai destinasi dengan lebih mudah. Apabila pengembangan jaringan transportasi dan penataan kawasan berjalan beriringan, sejumlah wilayah tersebut berpotensi menjadi rangkaian tujuan wisata dan aktivitas ekonomi yang saling terhubung.

Sebelum penataan Pasar Baru dimulai, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan transformasi menyeluruh kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD), yakni kawasan yang mengintegrasikan transportasi umum dengan kegiatan komersial, ruang publik, dan berbagai fungsi perkotaan lainnya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan multifungsi atau mixed-use di Blok M akan dilaksanakan secara bertahap. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta menargetkan revitalisasi total kawasan Blok M rampung pada 2029, sedangkan pembangunan kawasan multifungsi ditargetkan selesai pada 2030. Proyek tersebut mencakup pembaruan terminal, peningkatan aksesibilitas, integrasi antarmoda, pengembangan area komersial, serta penyediaan ruang publik yang lebih nyaman.

Penataan Blok M juga diarahkan untuk memperbaiki kemudahan mobilitas pejalan kaki dan menghubungkan berbagai fungsi kawasan secara lebih terpadu. Selain fasilitas transportasi, pengembangan mencakup pilihan ritel, makanan dan minuman, fasilitas gaya hidup, serta ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk interaksi sosial. Dengan demikian, Blok M diharapkan tidak hanya menjadi tempat berpindah moda transportasi, tetapi juga tujuan untuk berbelanja, bersantai, dan beraktivitas.

Rencana pengembangan Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua masih memerlukan tindak lanjut agar dapat diwujudkan secara terukur. Berbagai aspek seperti penataan ruang, akses transportasi, pengelolaan pedagang, kebersihan, keamanan, penerangan, dan kenyamanan lingkungan perlu menjadi bagian dari perencanaan. Khusus untuk gagasan operasional kuliner selama 24 jam, pengaturan aktivitas malam juga menjadi hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan ekonomi dapat berjalan selaras dengan kebutuhan warga di sekitarnya.

Hingga 13 Oktober 2026, pemerintah telah menyampaikan arah dan gambaran umum penataan sejumlah kawasan tersebut, sementara rincian teknis pelaksanaan Pasar Baru belum dijelaskan secara menyeluruh dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, rencana menjadikan Pasar Baru seperti Myeongdong perlu dipahami sebagai gagasan pengembangan yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027, bukan sebagai kawasan kuliner 24 jam yang sudah beroperasi.

Melalui pengembangan kawasan tematik dan integrasi transportasi publik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dapat memperkuat sektor perdagangan, kuliner, dan pariwisata ibu kota. Keberhasilan rencana tersebut nantinya akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan, kesinambungan pembangunan, serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara daya tarik wisata, kepentingan pelaku usaha, kenyamanan pengunjung, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Jurnalis : Wafiq Qodriyatussoleha

author avatar
Wafiq Qodriyatussoleha
  • Penulis: Wafiq Qodriyatussoleha

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less