Bandung — Program Mudik dan Arus Balik Gratis 2026 kembali menunjukkan kehadiran negara di tengah masyarakat melalui layanan transportasi yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian.
Mengusung slogan “Mudik Gampang, Balik Senang”, kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Paguyuban Jawa Tengah Cabang Bandung Raya menghadirkan perjalanan yang tidak hanya gratis, tetapi juga sarat nilai kemanusiaan.
Pada arus mudik tahun ini, sebanyak 23 armada bus diberangkatkan dari Bandung menuju berbagai daerah di Jawa Tengah.
Rinciannya meliputi 11 bus bantuan BAZNAS Provinsi Jawa Tengah, 7 bus dari Pemerintah Kabupaten Cilacap, 3 bus dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, serta 2 bus dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
Sementara itu, arus balik menuju Bandung Raya difasilitasi dengan 8 bus, terdiri dari 6 bus bantuan Wakil Gubernur Jawa Tengah dan 2 bus dari Pemerintah Kabupaten Cilacap.
Lebih dari sekadar angka, program ini menghadirkan kisah kemanusiaan yang menyentuh hati. Salah satunya dialami oleh Adellia Adinda Putri, peserta difabel dengan kondisi hidrosefalus asal Pasirwangi, Ujung Berung, Kota Bandung.
Sejak awal keberangkatan dari Bandara Husein Sastranegara, Adellia mendapatkan perhatian khusus. Ketua Satgas Bandung, Farchan Djuniadji, memastikan kesiapan ambulans dan tim relawan.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh tenaga medis dari Puskesmas Pasir Kaliki, dan Adellia dinyatakan layak untuk melakukan perjalanan.
Perhatian juga diberikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang menginstruksikan koordinasi intensif dengan dinas kesehatan di daerah tujuan. Setibanya di Sukoharjo, Adellia disambut tim medis dan diantar hingga ke rumah neneknya di Karanganyar pada 16 Maret 2026.
Memasuki arus balik pada 28 Maret 2026, perhatian serupa kembali diberikan. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turut memastikan kelancaran perjalanan peserta, termasuk Adellia.
Melalui koordinasi lintas daerah, tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama petugas Karanganyar menjemput Adellia dari kediaman neneknya. Ia kemudian dibawa ke Asrama Haji Donohudan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh tim medis dari RSUD Dr. Moewardi. Setelah dinyatakan dalam kondisi sehat, Adellia diberangkatkan menggunakan bus khusus difabel.
Setibanya di Bandung, tim relawan kembali sigap menjemput dan mengantarkannya hingga ke rumah dengan selamat. Kisah ini menjadi cerminan bahwa program ini bukan hanya tentang perjalanan, melainkan tentang rasa empati, kepedulian, dan gotong royong yang hidup di tengah masyarakat.
Ketua Satgas Bandung, Farchan Djuniadji, menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Jateng, Baznas provinsi Jawa Tengah, badan penghubung Jateng, seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah, tenaga medis, relawan, hingga panitia yang bekerja tanpa lelah.
“Ini bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Ini adalah tentang bagaimana kita saling menjaga, saling menguatkan, dan memastikan setiap orang—tanpa terkecuali—bisa sampai ke tujuan dengan selamat dan bahagia,” ujarnya.
Program Mudik dan Arus Balik Gratis 2026 menjadi bukti bahwa pelayanan publik yang dilandasi kepedulian mampu menghadirkan kebahagiaan nyata bagi masyarakat. Di tengah hiruk pikuk perjalanan, terselip harapan dan kehangatan yang menyatukan banyak hati—bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya.***







