Madilog: Sejarah Pemikiran Revolusioner Tan Malaka

beritapolricom

Oktober 20, 2025

2
Min Read
Oplus_0

Berita Lainnya

Tokoh – Dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama Tan Malaka selalu mengingatkan kita pada sosok revolusioner yang tidak hanya berani mengangkat senjata, tetapi juga berani berpikir kritis. Melalui karya monumentalnya berjudul Madilog adalah singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Tan Malaka menorehkan gagasan besar yang menjadi warisan intelektual abadi bagi bangsa Indonesia.

Madilog lahir pada masa pengasingan Tan Malaka, di tengah tekanan dan keterbatasan akibat penjajahan. Namun, dari kondisi yang sulit itu justru muncul gagasan besar yang mendorong bangsa Indonesia untuk berpikir ilmiah dan rasional. Buku ini bukan sekadar refleksi ideologis, melainkan seruan agar rakyat merdeka dalam berpikir, bukan hanya merdeka secara fisik.

Konsep Madilog berpijak pada tiga pilar utama:

1. Materialisme, yang mengajarkan pemahaman terhadap kenyataan objektif;

2. Dialektika, yang memandang perubahan sebagai proses alami kehidupan; dan

3. Logika, sebagai alat berpikir rasional dan teratur.

Melalui ketiga dasar ini, Tan Malaka berupaya membimbing bangsa agar menyeimbangkan perjuangan fisik dengan kecerdasan intelektual.

Lebih dari sekadar teori, Madilog merupakan kritik tajam terhadap dogma dan takhayul yang membelenggu masyarakat. Tan Malaka menekankan pentingnya meneliti sebab-akibat dari setiap fenomena, agar bangsa ini tidak hanya mengikuti arus tanpa kesadaran. Karena itu, Madilog dapat dipandang sebagai manifesto revolusi intelektual yang tetap relevan hingga masa kini.

Sejak Indonesia merdeka hingga era modern, gagasan Tan Malaka terus menunjukkan relevansinya. Di tengah arus informasi yang kerap dipenuhi hoaks dan disinformasi, semangat Madilog mengajak masyarakat untuk berpikir kritis, rasional, dan ilmiah. Buku ini menjadi panduan agar setiap keputusan—baik di tingkat individu maupun bangsa—berlandaskan pemikiran yang logis dan berbasis pengetahuan.

Para akademisi dan aktivis menilai Madilog sebagai fondasi awal kesadaran ilmiah di Indonesia. Tan Malaka menegaskan bahwa kemerdekaan tanpa pengetahuan hanyalah ilusi. Ia mengajak rakyat membangun peradaban dengan ilmu pengetahuan, bukan semata melalui kekuatan fisik atau politik.

Meski Tan Malaka telah tiada, semangat Madilog tetap hidup sebagai simbol pemikiran revolusioner. Karya ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan suluh penerang yang menuntun bangsa memahami jati dirinya dan menatap masa depan dengan penuh kesadaran. Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi modern, nilai-nilai Madilog terus menjadi cahaya bagi Indonesia dalam mengejar kemajuan sejati.

(Ditulis oleh: Imam Setiadi)

PILIHAN EDITOR